TS Pinang

Melupa
Submitted by titiknol on Wed, 06/18/2008 - 05:23.katakanlah kami ini pengingat yang buruk. kalender kami tak bertanda di angka-angkanya sebab kami tak mau lembarnya cepat habis lalu kami harus buru-buru mengganti dengan yang baru. kami terlalu lemah membawa setiap yang lalu dalam duffel bag tua yang mulai layu. kadang-kadang yang silam itu kami tinggalkan sebagai anak pohon, kami tanam di tepi jalan.
|

Melirik
Submitted by titiknol on Wed, 06/18/2008 - 05:02.kami menggunakan sudut-sudut mata kami untuk memandang setiap yang tak sanggup kami tatap bermuka-muka. memandang secara pengecut secara tak jantan tak betina tak menatap muka. begitulah kami menyebut tatapan secara demikian sebagai lirik, tatapan rahasia dengan kedipan lentik. begitu pula cara kami memandang yang tak kasat oleh mata: hawa fitnah yang licik, tipu muslihat puitik.
|

Mendengar
Submitted by titiknol on Tue, 06/17/2008 - 17:10.kami adalah sepasang kuping, kanan dan kiri. kami suka membohongi kepala kami sendiri, mengabarkan apa saja yang terdampar di selaput gendang, kami nyanyikan sebagai lagu yang terbakar dendam. kami sepakat lebih baik merayakan kebisingan yang hingar ketimbang bisik angin yang tak tentu benar. sepanjang hari kami menabuh diri dengan irama badai pesisir dan gunung berguruh.
|

Bertanya
Submitted by titiknol on Mon, 06/16/2008 - 06:13.kami bertanya kepada TUHAN, mengapa kami diceburkan ke dalam kerahasiaan. tuhan menjawab: RAHASIA itu sudah sering ditanyakan manusia sejak Adam menolak surga dan memilih hawa yang tersengal di dada Eva. rahasia harus tetap menjadi rahasia agar kalian bertahan bimbang hingga menemukan jawabnya. bukankah KAMI mengajarimu puisi?
|

Bersepeda
Submitted by titiknol on Fri, 06/13/2008 - 06:48.kami ini sepasang kaki. kami mengayuh tungkai sepeda. kiri dan kanan bergantian, sesekali berjeda. semakin laju sepeda kami semakin kami tak tahu ke mana kami menuju. kami hanya sepasang kaki, bukan pemegang kendali. yang kami tahu hanya membuat sepeda kami lancar meluncur maju.
|

Mandi
Submitted by titiknol on Thu, 06/12/2008 - 06:46.setiap pagi kami mencuci badan kami dari kata-kata dari puisi. dengan sabun antiseptik dan tidak lupa menggosok pipi. kami baca mantra dalam hati, lunturkan segala puja-puji dari jiwaraga kami, lunturkan juga segala penyakit hati seperti kecanduan puisi. kami pun mencuci rambut di seluruh tubuh kami, di kepala di ketiak di kelamin di tangan di kaki.

Recent comments
8 hours 15 min ago
22 hours 39 min ago
6 days 18 hours ago
1 week 3 hours ago
1 week 3 hours ago
1 week 3 hours ago
1 week 19 hours ago
1 week 19 hours ago
1 week 20 hours ago
1 week 2 days ago