For; Mbah Wandi
di jilatan ujung rambut
panas matahari
mata kaki terbenam
tanah pecah-pecah
ditunggui ocehan pemilik sawah
dan keluh kesah
“kenapa panen tak jua raya?”
dan tengkulak yang
bersiap pelit for the sake of surplus value
dan kesantaian melinting kumis
buruh tani,
kami ini cuma perkakas,
penyodor nyawa bagi tanah pecah-pecah
pelicin ujung pacul
pengganjal gagang arit [Baca Selengkapnya]
semut-semut berperutkosong,
berbaris di pematang sawah,
berung-burung berperut kosong,
mengitarinya,
belalang-belalang berperut kosong,
tak sanggup lagi berloncatan,
petani-petani berlumbung kosong,
sekolah anak-anak mereka yang kosong,
bilik air mata istri mereka yang kosong,
semua dibekap dalam karung
berlambang Super Toy
alwiTHELONEWOLF
Mid of Sept’08
kabel-kabel berarakan
membawa pesan dari pisau dan garpu
untuk memotong jari-jari tangan
saat kau makan malam
dengan kekasihmu nanti
malulah dengan kulit sawo matang dan rambut ikal
bersoraklah pada parfum dan rambut miring
seperti kata para nabi mu, hai Vj MTV!
menyerahlah pada daging diapit roti
berisi otak dan nalar mu sendiri
katakan selamat datang pada Genosida [Baca Selengkapnya]
SAJAK WARNA-WARNI MONOKROMIS
UNTUK NEGRI-KU
Apa warna kitab suci agama mu?
Coklat muda?
Merah?
apa warna kebanggaan partai yang kau coblos?
hijau?
Ungu?
Apa warna jaket almamater mu?
Kuning?
Merah?
Apa warna celana dalam yang biasa kau pakai melancong?
Oranye?
Merah muda?
Apa warna mata turis-turis yang berkeliaran dikota mu?
Biru?
Coklat? Seperti kita? [Baca Selengkapnya]
di jalanan apa yang kau sembah?
tuhankah?
tuhan yang bersabda tanpa jeda
dan dimitoskan tanpa cela,
dalam gema lonceng-lonceng,
toa-toa dan kentongan-kentongan
sampai sempritan,
menyamarkan tebakan, pilihan dan ancaman
agamakah?
yang dijalanan
mengejawantahkan diri
jadi kotak sumbangan
beralamat entah,
menggangu tidur siang
para pengangguran dengan dogma minta-minta [Baca Selengkapnya]

