Sinopsis:
Buku berjudul asli Rejecting Postmodernism; a Marxist Study, ini mencoba membedah posmodernime dan pos-strukturalisme dari kacamata seorang dosen sejarah Marxis. Oscar Wilde pernah berkomentar “dengan sangat menyesal saya katakan kita tengah hidup di jaman yang dangkal”. Komentar tersebut ia arahkan kepada suatau fenomena sosiologis yang bernama posmodernisme. Dan kalimat dari Wilde tersebut mungkin yang menggelitik Callinicos untuk menulis buku ini.
Callinicos menyusuri jalan setapak nan gelap yang menelurkan posmodernisme. Gembar-gembor posmodernisme selalu dikaitkan dengan relativisme milik Nietzsche. Dan dari Nietzsche lah Callinicos memulai perjalanan panjang dan berkelok-keloknya untuk mendapati sebuah jawaban dari pertanyaan yang tak banyak orang berani mencoba menguak; apa sebenarnya motivasi posmodernisme?
Buku ini bak gerbong lengkap para posmois yang berhenti sejenak dan berjalan mundur dengan kecepatan kilat dan mencapai puncak pohon silsilahnya. Lantas, gerbong itu dilepas berjalan ke depan lagi dengan memperhatikan sisi-sisi yang terlewatkan diperjalanannya terdahulu. Callinicos memulai dengan merumuskan jargon-jargon posmodernisme dan “saudara tua”nya, modernisme. Disinilah keraguan atas klaim “pos” didepan nama modernisme mulai meletup-letup ingin segera dipecahkan. Pada bab selanjutnya, berdasar dari keraguan itu Callinicos menemukan landasan yang “terlupa” dilihat oleh para penganut posmodernisme yaitu kapitalisme. Setelah mempunyai motif yang kuat, pembongkaran dilanjutkan dengan menaruh aporia-aporia pos-strukturalisme ke atas meja operasi. Rasionalitas, resistensi dan subyektifitas khas pos-strukturalisme dibaca keras-keras dan gaungnya ternyata bersuara lain. Paradoks-paradoks bermunculan dan satu keterlanjutan (kesamaan) ternyata ditemukan. Posmodernisme = Modernisme.
Ulasan:
Penolakan atas esensi dari posmodernisme adalah satu kehancuran usaha manusia untuk terus percaya atas perubahan dan perbaikan. Dalam rasionalitas posmodernisme dalam buku ini, terungkap satu mitos idealistis yang sangat berpeluang merusak semua hal yang disebut usaha oleh manusia. Mitos keterberian, yang pertama kali dirumuskan oleh Hegel ternyata masih dapat dijumpai dalam pesta-pesta meriah para posmois. Manusia, sebagai subyek, mendapat mandat untuk berurusan dengan dunia material dan hanya dapat berurusan dengannya. Manusia lantas sibuk mengutak-atik dunia materialnya sendiri sebagai seorang individu sinkronis. Seorang individu yang tanpa sejarah karena sejarah bukanlah miliknya. Apa yang ada didepan matanya, itulah semua dirinya. Materi-materi tidak lagi dilihat secara diakronis dan inilah yang menghapus setiap esensi ide dan semangat suatu jaman.
Kesibukan dengan material yang tanpa sejarah ini, menjerumuskan manusia menjadi individu-individu kesepian yang ber-dialektika hanya dengan dirinya sendiri dan dunianya sendiri. Foucault, seorang filsuf posmodernis asal Perancis, adalah contoh terbaik ketika dia merumuskan resistensi dalam bukunya Historie de la Sexualite. Menurutnya kekuasaan berada dibalik semua bentuk resistensi dan seks adalah resistensi sejati. Dengan kata lain, resistensi hanya berjalan dalam diri sendiri tanpa ada usaha kolektif karena keuasaan terdekat ada didalam diri manusia sendiri dan tidaklah mungkin manusia keluar darinya. Maka, tidak lah mungkin juga resistensi manusia keluar dari manusia secar individu itu sendiri.
Makin jelaslah bahwa kalau posmodernisme memberi perintah dalam satu kata maka kata tersebut adalah; “Menyerahlah!”. Menyerah pada apa? Pada kapitalisme jelas. Kapitalisme akan terus kokoh berdiri ketika tidak ada perlawanan kolektif. Kapitalisme Berjaya saat individu-individu melawan dirinya sendiri, sibuk mempermainkan dirinya sendiri dan berpikir sudah melakukan resistensi. Kapitalisme akan terus hidup ketika sejarah dihapuskan dan manusia tidak punya gambaran lain selain melalui cermin kapitalsime. Dalam kondisi-kondisi tersebut lah segala usaha manusia menjadi produk gratis untuk kapitalisme. Penolakan atas esensi posmodernisme membuat segala daya cipta manusia untuk dirinya. Semua ciptaan (karya) manusia menjadi hal yang terselip dari jari-jari mereka. Karya-karya menjadi sepenuhnya produk. Mereka sudah tidak lagi membawa keinginan dan tujuan bahkan resistensi para penciptanya untuk kepentingan kolektif. Hal ini lah yang telah disebutkan oleh Oscar Wilde diawal tulisan ini.




A.Postmodern adalah apa-apa yang setelah modern. jika menolak itu terjadi setelah ada posmodernisme/tas berarti menolak posmo adalah posmo.
Saya juga bertanya tentang kalimat ini:
Penolakan atas esensi dari posmodernisme adalah satu kehancuran usaha manusia untuk terus percaya atas perubahan dan perbaikan.(baris pertama ulasan).
Kalimat ini seperti menjelaskan bahwa: penolakan pada esensi posmodernisme/ adalah satu kehancuran usaha manusia/ untuk terus percaya pada perubahan dan perbaikan. apakah ini artinya menolak posmo dan atau esensinya adalah satu kehancuran? Kalimat ini malah bagus sekali. Cocok sekali dengan apa yang dinyatakan Hegel sebagai keterberian. Keterberian adalah sebuah jalan buntu dialektika, Derrida salah seorang Hegelian mengatakannya dengan istilah Aporia.Keterberian adalah usaha manusia untuk memahami materi secara utuh. Tapi toh gagal. ketika perbaikan dan perubahan nyatanya gagal maka Keterberian jangan-jangan menjadi 'alasan' munculnya alasan perubahan menuju baik(?)
Dan apa itu sebenarnya dangkal? dan siapa itu jaman ini?
Konon dangkal adalah lawan dari dalam. Siapakah yang berhak menyatakan dangkal dan dalam adalah subjek yang melihat. Nhah bukankah pada akhirnya pemaknaan adalah kategorisasi hierarkis yang jangan-jangan dibentuk juga oleh Kapitalisme. Apakah itu berarti mengatakan jaman ini dangkal adalah kedangkalan lain, yang berada dalam logika kapitalistis. Bagaimana melawan korporasi dengan korporasi? apakah hasilnya korporasi baru yang memiliki kuasa atas hierarki makna?
To enter postmodernism is to counter both modern and posmodern, to enter means to critisize, to reject postmodernism is politically correct to enter new hegemony. kata havor.
B.Rasionalisme manusia modern
Rasionalisme sebagai salah satu 'pegangan' modernis nyatanya tak menghasilkan apa-apa. Manusia telah mengikuti rasionalisme sampai titik dimana rasionalisme mentransformasikan dirinya sendiri menjadi irasionalitas total. manusia menjadikan dirinya sebuah koleksi yang terpisah kokoh tak terhancurkan. Pertanyaanya ketika resistensi dilakukan secara kolektif, dimana dia sang individu? dia muncul ketika berada dalam kolekstivitas. orang kemudian mengalami dirinya sendiri sebagai properti. wah, ya bagus.
Posmo adalah soal kreatif berpikir setelah kolektivitas dan rasionalitas tak mujarab demi perubahan yang identik dengan perbaikan.
Lawrence Cahonee mendefinisikan jaman dimana pemikir seperti Derrida berdiri sebagai
"contemporary intellectual movement, or rather, not very happy family of intellectual movements" jadi saya pikir ketika Derrida berpikir soal Plato itu bukan kedangkalan, seperti ketika orang beli buku menolak Posmodernisme di jaman yang dikatakan dangkal ini. Dangkalnya dimana sih?gara-gara gak kolektif?
Jujur saja: saya tak akan bilang bahwa saya tahu apa itu 'postmodernisme'. atau, lebih lanjut: saya tak tahu alur nalar pasti munculnya 'postmodernisme', khususnya yang berhubungan dengan sejarah filsafat Barat. juga: saya belum baca buku yang diulas itu.
Meskipun demikian, saya memberanikan diri memberi komentar.
(1) Mengutip kata-kata dalam film 'Waking Life' tentang 'postmmodernisme': pada dasarnya 'postmodernisme' adalah wilayah pemakluman. atau, mungkin, istilah kerennya: relativitas. Dalam film tersebut juga dinarasikan tentang ketidaksetujuan seorang dosen pada konsep 'postmodern' yang cenderung menghilangkan tanggung jawab individu pada kenyataan, pada apa yang diperbuatnya, pada (mengacu pada ulasannya alwi) tanggung jawab kolektif.
(2) Menyetujui kata-kata Linda Smith dalam 'Dekolonisasi Metodologi': (kira-kira begini) 'kami bukannya tidak melakukan sesuatu secara kontradiktif, kami memang bertindak dalam pengertian ganda, kami memang terfragmentasi..." kemudian "kolonialisme telah menjebak kami pada modernitas. kami tidak berurusan dengan 'postmodernitas' karena masih ada urusan yang belum kami selesaikan: kami sedang dijajah!"
(3) Dalam sebuah esei panjang tentang naratif, Mc. Quillian mengatakan bahwa 'postmodernitas' adalah kelanjutan atas 'modernitas' (esei ini berlawanan dengan orang yang menganggap kata 'post' sebagai lawan, misalnya Peter Barry dalam The Beginning Theory). dalam pembicaraan tentang naratif ini, yang menarik tentang 'postmodernitas' dan naratif-matrix (semacam tabel penciptaan naratif tiada ujung) adalah: penciptaan naratif yang tak berkesudahan dalam perspektif 'postmodernitas', dan perlawanan naratif politis yang cenderung berpihak. contoh yang diambil sebagai perbandingan adalah Michel Foucault dan Edward Said. merujuk pada pandangan itu, saya lebih memilih keberpihakan politis.
(4) Jangan-jangan 'kita' lupa kalau 'kita' sedang dijajah? (ups, pasti akan ada yang mempertanyakan makna 'dijajah'. dan jawaban singkat saya sebagai berikut: wayang yang dianggap sebagai pembawa pesan moralitas hitam putih menyimpan kenisbian yang hebat(tidak seperti agama-agama langit), dan kosok bali yang dipecah-pecah dalam 'postmodernisme' sudah ada di kontradiksi-kotradiksi yang muncul di wayang. 'posmo'kah itu?)
(5) dan bagaimanapun, saya sulit menyangkal bahwa kapitalisme berperan besar dalam peniadaan nilai kolektifitas. juga antara manusia dan alam semesta.
Salam hangat,
Wahmuji
Kutipan dari ulasan kawan alwiTHELONEWOLF (selanjutnya akan saya panggil 'kawan alwi' saja), saya jadi teringat dengan ucapan seorang Nirwan Dewanto yang mencakapkan perihal novel Saman karya Ayu Utami. Begini kira-kira si Nirwan punya kalimat: 'Ayu Utami tidak dilahirkan lewat sastra Indonesia.' Ucapan ini yang belakangan dicabik oleh Saut Situmorang. Saut mempertanyakan: bagaimana mungkin Ayu Utami tidak dilahirkan oleh sastra Indonesia sementara dia menulis dengan latar Indonesia dan, lebih lagi, dalam bahasa Indonesia?
Kalau ucapan Nirwan itu sahih, saya mempertanyakan: posmo-kah Ayu Utami?
***
Saya sepakat dengan kawan nat. Kalimat yang menjadi pembuka ulasan ini seperti membunuh seisi buku yang diulas. Saya kurang tahu apakah kawan alwi salah menuliskan atau bagaimana. Tapi, nalar-makna yang tertangkap benak saya ketika membaca kalimat itu adalah bahwa justru "penolakan atas esensi dari posmodernisme" menjadi "satu kehancuran usaha manusia untuk terus percaya atas perubahan dan perbaikan." Kalimat ini parah sekali bertentangannya dengan judul buku yang diulas "Menolak Posmoderenisme". Kalau penolakan terhadap esensi dari posmoderinisme adalah sebuah kehancuran, bukankah seharusnya kita tidak menolak?
Kalau kalimat itu salah ketik, mungkin yang dimaksud oleh kawan alwi adalah "penolakan atas esensi dari moderenisme". Bila dimulai dengan demikian, barulah masuk akal.
***
Saya akui saya belum begitu paham dengan yang namanya moderenisme, apalagi posmoderenisme. Belum cukup banyak yang saya tahu untuk dapat menambahi, menyanggahi, atau menggagahi diskusi yang sudah dimulai oleh kawan nat.
Tapi, ada beberapa celah yang bisa saya masuki. Yang pertama adalah masalah "sinkronis" dan "diakronis". Saya adalah pendukung kajian "diakronis" karena saya menganggap suatu masalah tidak akan cukup termaknai jika hanya diutak-atik dari satu segi waktu saja. Kajian "sinkronis" mirip dengan cara pandang kaum fisika modern. Mereka melihat fenomena fisika ibarat mesin (benda) yang terpisah-pisah dan dapat di kaji satu persatu, secara terpisah pula. Pola pandang inilah yang membuat mereka tidak pernah bisa mengerti dan membahasakan fenomena atomik dan subatomik (mikroskopik dan submikroskopik). Salah satu kebingungan mutlak mereka adalah ketika mengamati perilaku atom yang kerap berubah-ubah. Ketakmampuan inilah yang coba dijawab oleh fisika kuantum. Fisikawan kuantum (Bohr, Heisenberg, dan Capra) adalah ahli fisika yang mencoba melihat 'dunia' sebagai suatu kesatuan utuh, alih-alih mesin yang terpisah-pisah. Kesatuan utuh tersebut maktub dalam perihal ruang-waktu juga. Ini saya sebut dengan mengkaji secara diakronis. Bahwa, peneliti dan apa yang diteliti adalah kedua-duanya subjek. Bahwa yang diteliti adalah sebuah "peristiwa" yang pastinya bertautan dengan sesuatu yang lampau. Satu titik waktu saja tidak akan pernah cukup untuk memaknai sesuatu. Dari sini, ini adalah pendapat pribadi saya, saya memahami bahwa mengkaji secara "sinkronis" cenderung memperlakukan sesuatu sebagai "benda" semata. Sementara itu, kajian "diakronis" memperlakukan sesuatu sebagai "peristiwa".
***
Kaum fisika kuantum ini banyak sekali yang dipengaruhi oleh gagasan-gagasan filsafat (humaniora dalam eksakta?). Salah satu yang sangat menarik perhatian saya adalah Frichof Capra. Orang ini mencoba mencari kesejajaran filsafat timur (Hinduisme, Buddhisme, Taoisme, bahkan Zen) dengan fisika. Capra menemukan bahwa gagasan fisika kuantum, yang memperlakukan telitiannya sebagai peristiwa yang satu-utuh dan tidak terpenggal-penggal, banyak diiyakan oleh gagasan filsafat timur (akan lebih kentara lagi kalau kita melihat ajaran Zen). Hinduisme telah membuat Capra menulis sebuah artikel fisika berjudul "Tarian Syiwa", sebuah artikel yang didasari oleh pengalaman Capra sendiri, yang seperti tercerahkan ketika sedang lekaran di tepi pantai California dan tiba-tiba menyadari bahwa seluruh molekul dan partikel yang ada disekitarnya, yang terwujud dalam berbagai bentuk: pasir, ombak, karang, cahaya matahari, kepiting pantai, dll., terhubung satu sama lain dalam sebuah ketukan ritmis. Mereka sedang menari-nari dalam sebuah ketukan kosmik. Pemikir Hindu menyandikannya dalam simbol dewa Syiwa yang menari.
Nah, bagaimana dengan posmoderenisme? Satu hal dari sedikit yang saya tahu tentang posmoderenisme adalah penolakan terhadap narasi-induk, yang berujung pada penyemestaan kebenaran. Kebenaran disekat secara kontekstual ke dalam narasi-narasi kecil, yang bertopang pada pilar kebenarannya sendiri. Dari sini, seorang "sinkronis" akan cenderung melihat bahwa narasi-narasi itu, yang dipandang sebagai benda semata, tidak mempunyai sebuah kesalinghubungan. Maka, narasi-narasi kecil akan menafikkan sejarah karena mereka sibuk "mengutak-atik dunia materialnya sendiri." Akan tetapi, seorang "diakronis" akan memandangnya dengan cara berbeda: narasi-narasi kecil akan dianggap sebagai peristiwa, yang memiliki dokumentasi ruang-waktu dan, tentu saja, kesalinghubungan satu sama lain. Bagaimana mungkin sebuah narasi termaknai ketika ia sendirian? Bagaimana mungkin orang mengerti makna "nasi" kalau tidak ada "gabah"? Bagaimana mungkin orang memaknai posmoderenisme kalau tidak ada moderenisme? Bagaimana mungkin seorang penari langsung meloncat ke tari kontemporer kalau dia sama sekali tidak tahu tentang yang tradisional? Apa penari itu menyebutnya demikian karena tidak mau tahu dengan aturan dan ingin bergerak seenak-perutnya saja, lalu dengan acuh menyebut kata "kontemporer"? Apa arti "kontemporer"? Apa arti "posmoderenisme"?
Pertanyaan pribadi saya: yang manakah yang posmo? Benarkah posmoderenisme itu "sinkronis"? Atau malah "diakronis"? Paham mana yang memandang dunia sebagai "benda" dan mana yang sebagai "peristiwa"? Manakah yang fisika moderen dan mana yang kuantum?
Pernyataan dari Callinicos yang ditetaskan dari penelitiannya: Posmoderenisme = Moderenisme, pada hemat saya, tidak dapat dimaknai secara harfiah. Mengapa? Karena akan sangat wagu, alih-alih filosofis (seperti pernyataan 1 adalah 2). Pastinya, menurut saya, pernyataan Callinicos itu didasari oleh sebuah kritik terhadap bagaimana posmoderenisme dikonsepkan. Perbincangannya akan sangat panjang. Apalagi saya sendiri juga masih mempertanyakan dan belum mengerti tentang "apa itu posmoderenisme". Sampai titik ini, saya menganggap bahwa Callinicos, berdasarkan ulasan kawan alwi (karena saya belum baca bukunya), sangat tidak puas dengan "posmoderenisme" karena ia tak ubahnya "moderenisme". Ini terlihat dari keraguannya atas kelayakan awalan "pos" hadir dalam frasa "posmoderensime". Mungkin juga, Callinicos justru sedang mengecam posmoderenisme versi tertentu, yang dianggapnya tidak memberikan makna dalam? Alamak! Bicara apa saya? Saya sendiri juga tidak tahu kalau posmoderenisme itu punya versi atau tidak.
***
Dalam kerumitannya yang lebih lanjut, narasi dan 'yang diakronis' juga problematis. Saya dapat saja bertanya lagi: diakronis atas narasinya dan untuk kepentingan siapa? Bah! Obrolan tentang "subyektifitas" dan "obyektifitas" menjadi tak terelakkan lagi. Kalau kebenaran itu selalu subyektif, apakah semuanya benar-benar "benar"? Kalau ada yang disebut "kebenaran obyektif"...Jagad Pramudita! Apa itu "obyektif"?
Seorang kawan, yang pemusik, dalam keadaan setengah tidur, pernah bilang pada saya bahwa obyektifitas adalah subjektifitas kolektif. Tumpas benak saya dibuatnya! Jadi tidak ada bedanya, toh?
Sejauh ini, jawaban yang bisa saya terima adalah konsep kebenaran objektif yang dikemukakan oleh Kant, walaupun belum puas nalar saya dibuatnya. Kebenaran objektif, dalam pandangan Kant, adalah kebenaran yang didapat dan "hanya" benar dalam jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ilmiah yang dikuak pada saat hendak mencerna sesuatu masalah. Jadi, tidak ada yang namanya pukulrata. Sepengetahuan saya, inilah posmoderenisme. Posmoderenisme, lagi-lagi sepengetahuan saya, menolak mentah-mentah pemukulrataan yang diusung oleh narasi-induk.
***
Tentang "individu" dan "menjadi kolektif", saya selalu teringat pada rekaman ceramah Slavoj Zizek yang dengan nada satir mempertanyakan semangat toleransi dan sosial kaum demokrasi. Orang-orang yang mengaku demokratis selalu berkoar tentang toleransi kehidupan multi-budaya, multi-etnis, multi-agama, multi-cendikia. Segalanya seakan-akan didasari oleh kepentingan kolektif. Tapi, mengapa para biksu yang kerjanya bersemedi dan menyepi dari riuh kehidupan "sosial" jauh lebih bisa hidup damai dengan sesama manusia? Bukankah perenungan kaum asketik itu bersifat "kesibukan individu". Lalu, mengapa yang mengaku "kolektif" malah lebih sering perang dan merusak?
***
Saya malah sering ragu tentang makna posmoderenisme ketika didiskusikan di sebuah negara dunia ketiga macam Indonesia ini. Negara Dunia Ketiga sudah selesai belum dengan wacana moderenisme? Jangan-jangan malah kita lupa bahwa kita masih terjajah? Posmoderenisme? Hmm...
Salam,
Ginting
Pengasuh Ruang Ulasan Buku mediasastra.com
NB: Terima kasih buat kawan alwi atas ulasan bukunya, yang selalu dapat merangsang diskusi yang bergairah.
yah, ketahuan. saya baru akan memperbaiki kalimat pertama tersebut yang saya sadari saat sehari setelah mengirim tulisan ini.haha.. ternyata terlambat, sebelum memperbaiki sudah kena babat. hehe. ya, sudahlah.
Saya mungkin menanggapi persoalan yang diangkat kawan ginting mengenai pendekatan "sinkronis" yang melihat sesuatu cenderung sebagai sebuah "benda" dan pendekatan "diakronis" memandangnya sebagai suatu "peristiwa". Saya mempunyai kecenderungan untuk memilih menyebut kedua-duanya sebagai benda. Permasalahannya, seperti yang sudah diutarakan kawn Ginting, adalah sebagai apakah benda disini. Apakah obyek atau subyek?
Dalam pendekatan sinkronis, benda ini datang seakan-akan tidak dari mana-mana. Dan posmodernisme berada dalam kelopok ini. kenapa? karena kekuatan yang diberikan oleh warisan filsafat Hegel yaitu mitos keterberian. Ada salah satu jargon posmodernisme yang sangat terkenal yaitu, kekinian yang abadi. Artinya, para posmois percaya bahwa merek tidak datan dari mana-mana dan mereka sekumpulan manusia ahistoris yang setiap pagi bangun menjadi seseorang yang sepenuhnya berbeda. Mereka menganggap mereka hidup di waktu yang "sekarang" secara terus-menerus. Tidak ada kemajuan ataupun kemunduran. Semuanya hanya dilihat dari sudut yang berbeda, jadi yang namanya pergerakan maju atau mundur itu tergantung dari tempat anda melihat dan bukan waktu ketika anda melihat. Disini letak ketidaksetujuan saya dengan kawan ginting, bhwa sinkronis lah yang menanggap benda tersebut sebagai subyek karena benda tersebut memiliki kekuatan memberi arti atau nama pada semua hal. ini kan sangat mirip dengan kaum idealis yang menganggap bahwa manusia memliki semua pengetahuan yang dibutuhkan untuk ada di dunia ini. jadi, manusia tersebut meng-"ada"-kan benda-benda disekitarnya begitu juga benda-benda tersebut kepada manusia.
Sedangkan, pendekatan "diakronis" melihat benda dari pergulatan materi-materi dalam rentan waktu tertentu. Pendasaran argumen saya ini adalah materialisme sejarah-nya Mbah Marx. Pendekatam "diakronis" justru menempatkan benda tadi sebagai obyek. Karena, benda ini memiliki hanya sedikit kemampun untuk membentuk dirinya sendiri. Ia merupakan sebuah "hasil" bukan "awalan". Hal in juga didukung teori Althusser yang berkenaan dengan "corak produksi" dan "kegiatan luaran". Dalam teori tersebut, "kegiatan luaran" manusia ditentukan oleh dari kelas mana ia berasal. Penggolongan kelas ini berdasarka "corak produksi" masing-masing individu yang mana tidak satu pun individu mampu memberi "corak produksi" pada dirinya sendiri.
Yah, seperti itu lah mungkin sedikit memberi peta pada jalan pikiran saya mengenai perihal yang berkenaan dengan pendekatan sinkronis dan diakronis.
Amin!
Pertama-tama, mari saya tekankan bahwa, untuk pemaparan saya tentang ‘obyek’ dan ‘subyek’, nalar yang saya umpamakan adalah pertemuan ‘pengamat’ dan ‘yang diamati’. Dalam pendekatan sinkronis (berarti ‘satu titik waktu’), menurut nalar kawan alwi, benarlah bahwa sesuatu itu datang ‘seakan-akan tidak dari mana-mana’. Namun, hal ini hanya berlaku jika ditilik dari sudut pandang si ‘pengamat’, yang konon manusia itu. Karena merasa tidak punya beban sejarah makna, manusia posmo itu tadi lalu ‘memiliki kekuatan memberi arti atau nama pada semua hal.’
Argumen yang ditawarkan kawan alwi memang, sejauh yang saya pahami, memusatkan diri pada pembacaan atas ‘manusia’ saja. Ini berarti, argumen itu merujuk pada kesepakatan bahwa hanya ‘manusia’ sajalah (mungkin tepatnya ‘hanya manusia posmo sajalah’) yang punya kekuatan untuk memberi arti dan nama pada semua hal, yang kemudian menempatkan dirinya pada tahta ‘subyek’. Pertanyaan saya, ketika manusia posmo itu ‘memberi arti dan nama pada semua hal’, bukankah itu berarti ia juga ‘memberi arti dan nama pada dirinya sendiri’ dan pada sesama manusia posmo lainnya? Jika sahih demikian adanya, bukankah juga manusia itu tadi telah menjadikan dirinya dan rekan posmonya itu ‘obyek’ karena justru, alih-alih mutlak memaknai, malah dimaknai? Jika seperti itulah argumen kawan alwi tentang kajian sinkronis, bukankah berarti kondisi sinkronis itu telah juga menempatkan manusia posmo sebagai ‘obyek’, dan bukan mutlak ‘subyek’?
Saya rasa celah pada argumen kawan alwi adalah bahwa perumpamaan yang dipakainya hanya bertolak dari satu sudut pandang saja: si manusia posmo yang konon subyek yang hidup dalam kekinian yang abadi. Kata-kata kawan alwi, ‘…begitu juga benda-benda tersebut kepada manusia,’ tidak cukup kuat untuk memperlihatkan adanya dua sudut pandang, mungkin karena porsi pembahasan yang kurang seimbang. Tapi, tokh, kalau memang kata-kata tersebut memperlihatkan dua sudut pandang alih-alih satu, maka, lagi-lagi, kawan alwi sudah membunuh argumennya sendiri. Penjelasannya ada di paragraf atas.
***
Kata-kata saya (‘satu sudut pandang’) adalah untuk mempertegas perumpamaan tentang kasus fisikawan modern dan quantum. ‘Satu sudut pandang’ dalam fisika modern akan bermakna ‘bahwa semesta dapat disekat dipisah secara lengkap sehingga bisa disidik pada satu waktu itu saja; yang berarti bahwa ia tidak usah dihubung-hubungkan dengan yang lainnya.’ Nah, frasa ‘satu sudut pandang’ dalam pemaknaan quantum berarti bahwa unsur-unsur semesta tersebut mengalami kesalinghubungan, yang kemudian membuatnya menjadi ke’satu’an.
Kerinduan (alias sakau) menjadi subyek ini, pada hemat saya, disebabkan oleh pemaknaan pemikiran barat, yang bersumber dari filsafat Yunani (dualisme roh dan materi), yang cenderung bersifat menyandingkan yang ‘sesuatu’ dan yang ‘bukan sesuatu’. Perlu diingat, bahwa pertentangan ini tidak cuma sampai pada lapis ‘nama’, tapi juga sampai di lapis ‘makna’. Ini untuk mengatakan bahwa saya tidak menafikkan pentingnya membuat ‘kategori’ (di situs ini, saya dulu pernah berdebat asyik dengan kawan AL tentang ini. Bolehlah dilihat pada Ruang Diskusi: pembahasan mengenai ‘bentuk’ dan ‘isi’ dalam karya sastra). Yang saya maksudkan itu begini: tidaklah salah jika kita membuat kategori semacam ‘ruang’ dan semacam ‘waktu’ karena keduanya memang ‘berbeda’. Tapi, itu tidak berarti bahwa kita dapat menyidik sesuatu dari sudut pandang ‘ruang’ saja atau ‘waktu’ saja. Bagaimana jalannya bisa ada ruang kalau tidak ada waktu? Ruang dan waktu saling merasuki dalam hal makna. Nah, jalan pikir macam ini dapat disua akarnya pada pemikiran Timur (periksa: Frichof Capra, KEARIFAN TAK BIASA, 2002:45).
Hinduisme, Buddhisme, dan Taoisme adalah tiga dari sejumlah pilar utama pemikiran Timur. Secara garis besar, ketiga pemikiran ini bersuara senada: ada yang disebut sebagai ‘kesalinghubungan’. Zen bahkan lebih radikal lagi: perenungan penganut Zen ditujukan untuk menghilangkan sekat antara ‘aku’ dan ‘bukan aku’ – muradif dengan penghilangan sekat antara ‘subyek’ dan ‘obyek’. Lebih lanjut, yang kemudian ‘hilang’ adalah kedua-duanya ‘subyek dan obyek’. Saya punya cara sendiri membaca pernyataan barusan. Pernyataan itu bukan untuk mengatakan bahwa ‘subyek’ dan ‘obyek’ menjadi ‘tidak lagi ada’. Saya tekankan lagi bahwa saya tidak menyangkal perlunya pengkategorian. Subyek dan obyek adalah kategori-kategori. Mereka ada. Namun, mereka menjadi tidak ada ketika salah satunya hilang. Begitu juga dengan manusia posmois. Mereka tidak akan pernah menjadi ‘subyek’ kalau tidak ada ‘obyek’ pada mana makna mereka timpakan.
Menurut saya, pandangan diakronislah yang memadai untuk pemahaman tentang kesalinghubungan ini. Bagaimana mungkin orang bisa melihat kesalinghubungan kalau cuma fanatik pada satu sudut ruang-waktu saja? Saya memang sempat sedikit terkecoh dengan pernyataan kawan alwi: ‘yang namanya pergerakan maju atau mundur itu tergantung dari tempat anda melihat dan bukan waktu ketika anda melihat.” Akan tetapi, saya kira bukan begini cara memahami kesalinghubungan. Pernyataan kawan alwi saya anggap sebagai pernyataan yang menyangkal adanya hubungan antara ‘ruang’ (tempat) dan ‘waktu’. Waktu, saya yakin, hadir dalam proses ‘maju-mundur’. Manusiapun mengada, salah satunya, karena ‘diberi makna’ oleh ruang dan waktu. Ruang dan waktu, sebagai konsep maupun sebagai nama, mengada karena ‘diberi makna’ oleh manusia. Inilah kegandaan timbal-balik yang tak dapat diselesaikan oleh pendekatan sinkronis.
Masalah terjadi ketika orang mencoba untuk mengerti tentang ‘subyek’ dan ‘obyek’ lewat lapis nama, bukan lapis ‘nalar-makna’. Lebih lagi, seperti yang diajarkan di kelas tata-bahasa pendidikan dasar, ‘obyek’ selalu dikenakan dengan istilah ‘penderita’. Maka, timbullah sakau akan ‘subyek’.
Sedikit nakal, lewat pemahaman kesalinghubungan yang saya paparkan tadi, saya justru menganggap bahwa sudah tidak ada lagi yang hanya bernama ‘subyek’ dan yang hanya bernama ‘obyek’. Benda-benda, meminjam istilah kawan alwi, sudah menjadi kedua-duanya subyek dan obyek karena mereka sudah saling merasuki dan saling memaknai: ingat istilah Marx interpenetration of the opposite.
Setelah berpikir sedikit lebih jauh, saya malah jadi meragukan kualitas memadainya istilah ‘sinkronis’ dan ‘diakronis’ dalam diskusi ini. Nalar makna utama dari dua istilah barusan ialah ‘cronus’ alias ‘chronic’ alias ‘kala’ alias ‘waktu’. Lalu, di manakah ruang? Biarpun begitu, sampai ditemukan istilah yang lebih tepat, dengan sedikit pemakluman, dapatlah pula saya merasakan nalar ‘ruang’ dalam istilah ‘sinkronis’ dan ‘diakronis’. Alasannya, seperti yang saya utarakan tadi, tidak bisa ‘waktu’ saja atau ‘ruang’ saja. Bagi saya, ketika melafalkan ‘waktu’, saya sekaligus melafalkan ‘ruang’; ketika melafalkan ‘subyek’ saya sekaligus melafalkan ‘obyek’.
***
Untuk kasus pendekatan ‘diakronis’ lewat kacamata Marx, yang kemudian diperkuat oleh teori Althusser, saya memang melihat adanya ‘ketakadilan’ yang terjadi di setiap kelas sosial versi Marx. ‘Kelas’ menentukan ‘corak produksi’, yang kemudian berimbas pada ‘kegiatan luaran’. Tentu saja, bagi Marx yang pendukung sejati kaum buruh itu, konsep ‘diakronis’ menjadikan ‘benda’ sebagai ‘obyek’ (dalam artian sempit). Argumen Marx ini, menurut saya, penuh motivasi yang dilandasi oleh ke-pro-an Marx pada kaum buruh. Buruh terus menerus menjadi ‘obyek’ karena tak dapat menentukan ‘corak produksi’nya sendiri. Namun, bagaimana dengan kaum borjuis? Bukankah beruntung sekali mereka menjadi ‘obyek’ dari konsep diakronis itu? Lanjut lagi, masihkah mereka dianggap sebagai ‘obyek’ karena ‘tak mampu’ memberi makna lain pada hidupnya kecuali ‘manusia pemilik modal dan bergelimang harta’?
Mungkin, manusia posmois menyugesti dirinya untuk terus hidup dalam kekinian abadi agar terlepas dari cengkraman ‘nasib tak terelakkan’ ini. Tapi, kalaupun hendak ‘melawan’ nasib, saya kira ‘menjadi ahistoris’ bukanlah jalan yang harus ditempuh. Dan, kalau posmoderenisme memang sahih seperti itu, saya menolaknya!
Salam,
Ginting
N.B. Alwi, kau buat nalarku bergairah sebergairahnya.
Sekalian posting pertama kali, saya ucapkan halo dan salam kenal. Juga sekalian mau tanya apa ini buku, secara terjemahan, bagus? Soalnya banyak buku bagus yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia yang tidak bagus. Kalau bagus, saya mau beli ah... kalau ada uang saya tentunya... ah.
Masa postmoderenisme dibilang dangkal? Trus kalau yang seperti itu dangkal, yang tidak dangkal yang seperti apa? Kalau dangkal, sepengetahuan saya, ya nggak sulit dibahas. Sementara itu, postmodernisem itu baru mau didefinisikan saja sudah susah. Gitu lho.
Cihuy.