Media Komunitas : Media Masyarakat Maju

restu ashari putra's picture
Oleh kawan restu ashari putra, Selasa 30-06-09 09:34

Tradisi literasi : Langkah menuju masyarakat maju
Sebuah kemajuan bangsa menuntut pemberdayaan masyarakat kearah kemajuan pula. Karena masyarakatlah motor penggerak peradaban bangsa. Karena dari sanalah lahir pusaran generasi yang akan mengendalikan bangsa kemana arah tujuannya. Maka dari itu nuansa-nuansa dan tradisi yang mendukung pada terciptanya kualitas masyrakat maju perlu diupayakan. Salah satunya adalah tradisi literasi sebagai budaya keilmuan dan pengembangan seluruh lapisan masyarakat. Tidak hanya terbatas kalangan akademis tertentu saja akan tetapi totalitas kelas masyarakat.

Mengapa tradisi literasi ? bukan wacana baru bahwa tradisi literasi di masyarakat menjadi fondamen kemajuan suatu bangsa. Seorang Hartoonian, salah satu politikus AS yang pernah diwawancarai oleh seorang wartawan perihal apa yang harus dilakukan oleh bangsa Amerika untuk mempertahankan supremasinya. Jawaban yang tidak disangka dari Hoortanian, if we want to be a super power we must have individuals with much higher levels of literacy. Ya, artinya bahwa individu yang peduli akan tradisi literasi merupakan benih masyarakat maju. Bangsa Jepang sendiri membutuhkan satu abad untuk membentuk tradisi literasi saat dimulainya Restorasi Meiji. Saat itu Jepang melakukan kegiatan penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan dan teknologi secara besar-besaran. Jepang mengupayakan budaya literasi kepada masyrakatnya. Dan sekarang terbukti Negara itu menjadi raksasa ilmu pengetahuan dan teknologi yang cukup disegani. Padahal saat itu Jepang bukanlah Negara yang ‘diperhitungkan’ oleh bangsa-bangsa lain.

Wagner (2000) menegaskan bahwa tingkat literasi yang rendah berkaitan erat dengan tingginya tingkat drop out sekolah, kemiskinan dan pengangguran. Ketiga aspek tersebut adalah sebagian dari indikator rendahnya indeks pembangunan manusia. Kalau manusianya saja sudah menapaki indikasi tersebut maka jauh sudah cita-cita masyarakat maju yang diidam-idamkan. Maka menciptakan generasi literat merupakan jembatan menuju masyarakat makmur yang kritis dan peduli. Kritis terhadap segala informasi yang diterima sehingga tidak bereaksi secara emosional dan peduli terhadap lingkungan sekitar. Hal ini diperlukan kalau kita menginginkan bangsa ini bangkit dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang maju terlebih dahulu.

Dan jangan salah bahwa tradisi literasi bukan saja kemampuan baca tulis belaka yang kering tanpa makna. Tetapi transformasi nilai-nilai informasi dan pengetahuan dari proses baca tulis seseorang sehingga mempunyai pengaruh pada diri seseorang tersebut. Menurut Kirsch dan Jungeblut dalam buku Literacy: Profile of America’s Young Adult mendefinisikan literasi kontemporer sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan informasi tertulis atau cetak untuk mengembangkan pengetahuan sehingga mendatangkan manfaat bagi masyarakat. UNESCO sendiri pada tahun 2003 mengartikan literasi sebagai kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, menafsirkan, menciptakan, mengkomunikasikan, dan kemampuan berhitung melalui materi-materi tertulis dan tercetak termasuk juga variasi bahan yang sesuai dengan konteks definisi literasi itu sendiri. Dari makna tersebut, General Director UNESCO, Koiichiro Matsuura menjelaskan bahwa literasi lebih dari sekadar membaca dan menulis. Melainkan juga mencakup bagaimana kita berkomunikasi dalam masyarakat. Karena literasi berarti juga praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya.

Jelaslah sudah kalau begitu betapa pentingnya tradisi literasi bagi masyarakat kita, masyarakat sebuah bangsa yang tentunya mendambakan sebuah kemajuan. Setelah mengetahui arti pentingnya tradisi literasi, tinggal bagaimana sekarang mensosialisasikan hal tersebut pada masyrakat, khususnya yang benar-benar awam terhadap hal ini. Kita sungguh perlu benar agar nuansa-nuansa, lingkungan kondusif itu tercipta bagi terwujudnya tradisi literasi yang melekat pada masyarakat awam.

Media Komunitas : Ruang komunikasi literasi
Untuk menciptakan nuansa dan kondusif tersebut ada banyak jalan perlu ditempuh. Salah satu gagasan menarik adalah menggalakan media komunitas. Media yang dibentuk oleh komunitas-komunitas masyarakat sebagai upaya aktif keterlibatan masyrakat dalam proses penciptaan tradisi literasi. Untuk gerakan literasi sendiri, sekitar tahun 2005 masyarakat yang diwakili individu, kelompok maupun kolektif, secara aktif mendorong lahirnya gerakan literasi di tingkat lokal. Indikatornya dapat dilihat dari munculnya toko-toko buku independent di berbagai kota besar di Indonesia. Di Bandung sendiri, tahun 2005 ada sekitar 40 buku dan komunitas literer yang tersebar di beberapa kawasan Bandung (Peta Komunitas Literer). Fenomena ini menjadi inspirasi gerakan literasi di beberapa kota Indonesia kala itu. Namun sayang, sekitar tahun 2007 jumlah toko buku independent menyusut drastis. Dari 40 yang tercatat, kini tinggal 8 saja yang tersisa; Rumah Buku, Omuniuum, Tobucil & Klabs, Komunitas Nalar, Reading Light, Lawang Buku, Ultimus, dan Baca-baca (Tarlen Handayani, 2007 : Pikiran Rakyat Online).

Fenomena ini tentunya jangan jadikan sebagai kabar buruk belaka. Namun jadikan upaya mengambil pelajaran bahwa gerakan literasi tersebut diatas hanya mewakili kelompok tertentu saja tanpa melibatkan secara aktif seluruh lapisan masyarakat dalam proses transformasi tradisi literasi. Maka gerakan literasi akan menjadi lebih baik dengan menyediakan ‘ruang’ komunikasi literasi sebagai media pembudayaan semangat literat. Dan ‘ruang’ tersebut adalah pengelolaan media komunitas. Media ini bisa berbentuk bulletin, madding, atau media-media lain yang sungguh dikelola dengan keterlibatan aktif masyarakat demi membumibudayakan tradisi literasi.

Lalu apakah media massa konvensional baik lokal maupun nasional tidak membawa semangat literat (tradisi literasi) dalam masyrakat ?
Media massa konvensional juga sebagai sarana pembentuk tradisi literasi, namun terkadang tidak mampu menjangkau semua lapisan masyarakat. Maka peran media komunitas inilah yang menutup kekurangan peran media konvesional tersebut. Karena pada dasarnya media komunitas juga adalah media massa. Ia sejalan dengan fungsi media massa.

Berbicara media massa tidak bisa lepas dari komunikasi media massa. Para ahli komunikasi berpendapat bahwa yang dimaksudkan dengan komunikasi massa (mass communication) adalah komunikasi melalui media massa, jelasnya merupakan singkatan dari komunikasi media massa (mass media communication) (Onong Ucahjana, 1993: 20). Oleh karena itu untuk lebih membuka cakrawala pandangan kita akan peran pentingnya media komunitas sehubungan dengan tujuan tradisi literasi masyarakat, kita perlu perhatikan pula seberapa besar pentingnya media komunitas sebagai media komunikasi massa dapat memberi banyak pengaruh pada masyarakat.

McDecitt (1996:270) mengatakan, “Media cukup efektif dalam membangun kesadaran warga mengenai suatu masalah (isu).” Lindsey (1994: 163) berpendapat, “Media memiliki peran sentral dalam menyaring informasi dan membentuk opini masyarakat.” Disini bisa kita lihat bahwa pada dasarnya peran media mampu membentuk sikap kepekaan dan kesadaran warga terhadap kondisi social yang akan kita bangun, yaitu tradisi literasi. Lebih jauh lagi, bahwa media adalah ruang komunikasi. Carl I. Hovland mengatakan bahwa communication is the process to modify the behavior of other individuals (komunikasi adalah proses mengubah prilaku orang lain).

Jadi, komunikasi media komunitas adalah komunikasi media massa seperti yang sudah diungkapkan diatas. Hanya saja media komunitas mampu menampung dan menjangkau wilayah social masyarakat yang tidak bisa diraih oleh media massa konvesional. Bahkan media komunitas harus menuntut keterlibatan aktif masyarakat bukan saja sebagai konsumen (pembaca) akan tetapi juga penggerak media. Hubungan timbal balik secara aktif itulah yang akan membuka jalan bagi terbukanya ruang komunikasi literasi. Dan setelah terciptanya ruang komunikasi literasi maka budaya dan nuansa tradisi literasi di masyarakat secara tak langsung dapat terwujud.

Bahkan belakangan bergulir wacana mengenai citizen journalism (jurnalisme warga). Kegiatan jurnalistik yang melibatkan partisipasi masyrakat secara aktif dalam penyebaran, pencarian, dan penerima informasi. Namun wacana yang berkembang baru sebatas pada pada media On-line saja. Hal ini etap saja belum mampu “memancing” tradisi literasi yang membumi di masyarakat.

Sebagai media komunikasi massa, media komunitas pun memiliki fungsi yang sejalan dengan media komunikasi massa yaitu sebagai sarana informasi, sosialisasi (pemasyarakatan), motivasi, perdebatan dan diskusi, pendidikan, memajukan kebudayaan, hiburan, dan integrasi (Onong Ucahjana 1993: 28).

Dengan demikian hal ini tentunya menjadi pekerjaan rumah bagi kita para akademis dan elit ataupun para sukarelawan komunitas untuk terjun membantu membukakan jalan bagi ruang terciptanya tradisi literasi melalui media komunitas. Dengan cara pelatihan jurnalistik warga, proses penyampaian gagasan melalui tulis menulis, pelatihan dikusi publik hingga penggarapan media meski sederhana. Karena jurnalisme pun, menurut Bill Kovach & Tom Rosenstiel dalam The Elements of Journalism: What Newspeople should Know and The Public should Expect (2001), tidak saja memiliki kewajiban untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman yang diperlukan masyarakat, tetapi juga memberikan sebuah forum untuk membangun ikatan yang mengembangkan masyarakat.

Semakin giat dan luasnya kegiatan media komunitas di berbagai lapisan masyarakat maka semakin tumbuh pula harapan bangsa kita untuk memajukan dan mencerdaskan bangsa.
Maka sekali lagi, demi membudayanya tradisi literasi di masyarakat, pengembangan media komunitas di seluruh lapisan masyarakat pun menjadi sangat penting dengan dikelola secara professional namun bukan semata mengejar ‘pasar’ akan tetapi juga pemberdayaan dan pembelajaran. Dan hal ini akan memberi pengaruh positif bagi pengembangan manusia, masyarakat dan bangsa Indonesia selanjutnya. Itu kalau kita ingin menjadi bagian dari masyarakat maju dan berperadaban. Anggap saja ini sebuah langkah awal.

Apresiasimu: None Apresiasi: 10 (1 Apresiator)
Kategori: