Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

 

Mencumbu Kereta

ginting's picture

           Sarmin, bocah berambut ikal, berkopiah abu-abu kusam, bersandal telapak dan jari-jari kaki, berjidat nonong, bermata juling, berbibir sumbing, dan berkulit keling itu memasuki stasiun Tugu Jogja ketika senja baru menyapa kota, mengelir jingga di setiap sudut basah yang baru diludahi langit tadi siang, ketika pelukis baka kelabakan menggambar pelangi dengan seadanya, ketika angin dari Wedi Ombo tersesat setelah nekad menuju ibukota, ketika delman pak-kusir-yang-sedang-bekerja menabrak seorang gelandangan sehingga terlempar ke atas bilah-bilah rel, dan disambut dengan tak sengaja tak dinyana oleh loko tua yang sedang langsir. Sarmin masuk tanpa peduli dengan gerombolan berdesak-desakan yang ingin menonton daging-daging pecah tadi. Sarmin datang ke stasiun untuk melihat kekasih kesayangannya, loko tua berkulit warna muda dengan nama Senja Utama Yogya. Sarmin, tidak seperti biasanya, masuk lewat gerbang peron. Pak penjaga dan ibu penjual karcis peron yang berharga seribu limaratus perak itu sedang tergopoh-gopoh ikut bergabung ingin menyaksikan keramaian di depan gerbang stasiun. Kotak karcis itu ditinggalkan begitu saja, dan gerbang peron terbuka untuk siapapun, bahkan bagi Sarmin. Sarmin melangkah masuk. Perlahan. Dengan lidah menjulur dan liur menetes, Sarmin berjalan ke Jalur 5 untuk menyapa kekasihnya. Loko tua berkulit warna muda bernama Senja Utama Yogya.

***

 

“Sudahlah, min. Mana bisa kau kawini dia? Hancurlah kontol kau yang kecil itu nanti. Besi baja masak mau diperawani?” ejek Uut.

“Preman lalu lintas mau dikencani. Udah tinggi rupanya ilmu kau?” tambah Aan.

“Rombongan Presiden aja berhenti kalau udah lewat si kepala-suku lalu lintas darat itu. Apa modal kau, Sarmin? Masak oli kotor mau dijadikan mas kawin?” sahut Uut.

“Ah, kau ini, Ut. Manalah pernah rombongan Presiden lewat jalan yang ada dilalui rel keretanya. Yang ada juga lewat jalan layang,” debat Aan.

“Bukan urusankulah itu! Yang penting si Sarmin ini. Jauh-jauh bertiga kita datang dari Andalas sana, masak kita biarkan kawan kita ini kawin sama kereta api?” elak Uut.

Begitulah, telinga Sarmin selalu disuguhi oleh perdebatan dua kawannya itu. Padahal, awalnya, niat mereka adalah menasihati si Sarmin. Namun, tak jarang nasihat-nasihat itu menjadi adu mulut antara dua orang kawan seperantauan Sarmin itu. Bahkan pernah minggu lalu Uut, sangkin panasnya, menonjok mulut Aan sampai rontok tiga butir giginya. Aan bukan tak sempat membalas. Dijambaknya rambut Uut. Segenggam penuh rambut Uutpun harus mengucapkan salam perpisahan kepada kulit kepalanya. Tapi amarah itu tak berlangsung lama. Sebentar kemudian, mereka sudah tertawa-tawa lagi sembari minum kopi pahit panas yang dibeli Sarmin di angkringan terdekat. Walaupun setiap saat dicekoki oleh ejekan dan makian dari kawan-kawannya itu, Sarmin tak pernah mau ambil peduli. Dia tetap kukuh pada cintanya. Cinta terhadap Senja Utama Yogya. Meskipun gerbong-gerbong kereta itu sudah agak usang dan bau tengik pesing kamar mandinya, Sarmin tak mau tahu. Dia sudah buta. Buta akan rasa puja sembah pada loko yang dianggapnya secantik bidadari memainkan nafiri itu. Entah apa sebab, Sarmin jatuh hati pada pandangan pertamanya ketika melihat Senja Utama Yogya tiba dari barat pulau Jawa, dari ibukota negara, Jakarta. Senja Utama Yogya sampai di stasiun Tugu pada pukul lima di fajar hari. Senja datang di kala pagi. Saat tudung bumi masih memerah serona orok bayi. Saat angkasa masih serupa dengan langit sore senja. Senja Utama Yogya tiba dengan menarik delapan gerbong kereta, setengahnya kosong. Lengkingan nyaring dari moncong loko membuai nikmat gua dengar Sarmin. Apalagi ketika dilihatnya loko itu datang dengan tubuh terbalut sinar rona mentari yang sebahagiannya ditempong oleh tubuh loko kembali entah kemana. Menyetubuhi udara, mungkin.

“Ya Baal, makhluk megah apa yang terpampang di mukaku ini?” benak Sarmin.

Pikiran sunyi itu disambut dengan sekali lagi teriakan lantang menggairahkan dari Senja Utama Yogya. Sontak Sarmin tersentak, hatinya berteriak, “Dia menyambutku!”

***

           

Di jalur 5, Sarmin menyapa dan memberanikan diri mengelus kekasihnya itu. Kasar kulit Senja Utama Yogya karena sudah banyak berserakan benjolan-benjolan bisul karat di sekujur wajahnya. Namun, tetap saja, Sarmin teramat sangat menikmatinya. Sarmin semakin menggila. Dia semakin berani menjamah jauh lebih dalam tubuh baja Senja Utama Yogya. Sekarang, setiap baut dikuluminya. Sarmin tak perduli meskipun dia sudah menarik perhatian orang banyak karena ulahnya yang ganjil itu. Tiba-tiba Senja melengking, ingin langsir sejenak. Sarmin terhenyak. Tapi tak sampai merasa ditolak.

            Sekarang, keramaian yang disebabkan pecahnya tubuh seorang gelandangan di depan stasiun Tugu tadi sudah agak menguap. Polisi sudah memanggil mobil ambulance. Sang kusir sudah diamankan untuk diselidik dan kemudian disidik. Bangkai gelandangan tadi tidak jelas akan diapakan. Akan berakhir di meja praktik mahasiswa-mahasiswa kedokteran sebagai alat peraga tentang susunan jaringan tubuh manusia, mungkin. Setidaknya gelandangan itu tidak mati sia-sia. Hidup tak berguna, mati tidak sia-sia. Adakah yang lebih indah dari itu?

            Sarmin kini menunggangi Senja Utama Yogya. Dia sudah memutuskan: akan menjadi pendamping setia. Mengharungi sungai rel bersama-sama. Menyetubuhi setiap lubang berkarat yang ada di raga Senja, setiap saat dia ingin, setiap saat dia birahi.

            “Uut dan Aan akan baik-baik saja tanpaku. Lagipula aku tidak terus menerus pergi. Stasiun Tugu juga merupakan salah satu kandang Senja,” batinnya.

            Sarmin membayangkan saat-saat yang akan dilaluinya bersama Senja Utama Yogya akan menjadi gula-gula diatas lidah basah hidupnya. Dia berpikir untuk mengukur dan menghafal setiap hentakan yang di buat Senja saat merayap di relnya. Lalu, Sarmin akan menyesuaikan degup detak jantungnya dengan hentakan-hentakan itu. Dia sudah memantapkan keinginan itu, dan menyiapkan segala keberanian yang dia punya. Sarmin, bocah sumbing bermata juling berkulit keling itu, akan menjadi sedegup jantung dengan Senja.

***

 

            Aku meninggalkan Yogya dan berangkat ke Jakarta untuk mendengarkan dan mengiyakan segala macam gombal busuk yang pernah ada terucap dari setiap pori-pori manusia. Seorang gelandangan mati terbelah-belah ketika aku memonyongkan bibir ke arah gapura Stasiun Tugu. Aku tak berani melihat penjagalan itu. Hanya mampu mencoba membayangkan seperti apa bentuk tubuh yang sudah menjadi serpihan itu. Hanya mampu mencoba. Meskipun akhirnya gagal.

            Aku masuk ke stasiun tanpa ada yang menjaga peron. Mungkin lebih suka melihat serpihan daging. Aku langsung celinguk kanan-kiri, dan, di sana, aku melihat gerbong kereta Senja Utama Yogya sedang nonggok menunggu penumpang. Aku melangkah mencari gerbong nomor tujuh. Disitulah tempat yang diberikan karcis padaku. Sembari mencari, ada pemandangan aneh yang membuatku sedikit jijik. Seorang bocah laki-laki sedang mengulum dan menjilati baut-baut dari loko kereta. Begitu bersemangat, begitu bergairah, sepertinya begitu nikmat. Entah apa yang akan terjadi padaku, sudah dua kejadian aneh yang membuka jalanku ke Jakarta.

            Aku segera bergegas dan mengalihkan pandanganku dari adegan itu. Gerbong tujuh masih agak jauh di belakang. Langkahku kupercepat. Sambil jalan, aku menoleh ke belakang sebentar, tidak tahu apa yang membuatku menoleh. Sekejap, saat membalikkan muka ke depan, sesosok tubuh menyelinap ke hadapanku dan tertabrakku. Tubuh orang itu terhempas telentang. Kepalanya membentur tegel. Tapi, sebentar kemudian dia langsung bangkit. Aku hanya memilih mengaga karena tak sempat menolong. Dia sudah berkelebat pergi.

            Gerbong yang kutempati tidaklah sesak. Ada banyak ruang longgar. Penerangan redup. Ada sekelumit kabut tipis berbau tembakau yang membelai-belai udara di ruangan itu. Pengap. Pusat titik lihat mataku selalu tertuju ke angka-angka kursi yang tertera di dinding gerbong. 10C, itu yang kucari. Setelah beberapa belas langkah, aku menemukannya. Bangku masih kosong. Siapakah yang akan duduk di sebelahku? Aku tak mengharapkan seorangpun. Tidak perlu. Aku ingin tidur merebah nanti malam selama perjalanan. Tersiksa sekali rasanya tidur dengan pantat dihentak-hentak kereta.

            Aku duduk menyender jendela. Dinding baja itu tentunya tidak akan keberatan jika bobot badanku yang hanya setengah kuintal ini ngelendot malas. Tak berapa lama, peluit berdecit panjang. Senja Utama Yogyapun bergerak pelan-pelan, lalu, lama-lama semakin cepat sampai akhirnya tertabuhlah hentakan-hentakan dengan ketukan yang mengekor pada laju kereta.

            Baru secuil jarak yang telah dilahap kereta, aku sudah mulai diculik kantuk. Aku melawan. Masih ingin menikmati sedikit berkas jingga bisu terakhir yang ketinggalan di kaki langit.

            Seorang balita merengek tepat di bangku belakangku. Aku menoleh sejenak. Lalu dengan cepat kualihkan pandanganku. Ibu balita itu sedang menyusuinya. Aku tak mau ibu itu merasa risih dan berhenti meneteki anaknya. Lebih baik aku terus memandang ke ruang di balik jendela. Sebentar, terlihat dua anak sedang bermain perosotan di dua gundukan tanah. Berguling-guling, tertawa keras-keras, kemudian mengabur hilang berpendar menjadi kelebat samar.

            Langit sudah gelap. Aku mulai tidak memperhatikan awan. Mataku hanya menantang punggung bangku yang berlapis kulit hijau itu, mencoba menggambar payudara ibu tadi. Tiba-tiba terjadi keributan di gerbong kami. Pak kondektur hendak memeriksa karcis para penumpang. Seorang pria berseragam dengan sepucuk senjata api tertenteng di pinggangnya mengekori petugas kereta api itu. Giliranku hampir tiba. Namun, sepertinya ada masalah di bangku depan.

            “Selamat sore, pak. Bisa tolong perlihatkan karcisnya?”

            “Kereta ini kekasih aku. Kenapa pulak harus bayar karcis?” Suara lelaki yang dimintai karcis itu terlihat kurang jelas. Dia seperti tidak mampu mengangon udara yang keluar dari rongga mulutnya. Seperti orang sumbing yang sedang berbicara. Namun aku bisa menangkap apa yang dikatakannya. Aku mendongakkan kepala, hanya kopiah lusuh warna abu-abu yang terlihat.

            “Kamu jangan main-main! Nanti saya lempar kamu dari kereta ini,” ujar pria berseragam yang di pinggangnya tertenteng sepucuk senjata api itu.

            “Ah, ribut muncungmu! Tanya saja sama kekasihku ini, apa perlu aku bayar karcis.”

            “Ikut kami!!”

            Lelaki itu memberontak dan mencoba menyerang. Tapi, pria berseragam yang di pinggangnya tertenteng sepucuk senjata api itu terlalu kuat. Senjata tadi dicabut dari sarungnya. Popor senjata itu dihantamkan ke wajah lelaki itu hingga bertambah lebar robekan sumbingnya, kemudian ke kening sehingga bertambah nonong. Muncratan darah menjilati kulit tubuhnya yang keling. Balita tadi menangis lagi. Ibunyapun harus mengeluarkan teteknya untuk dikemut lagi.

            Kereta berhenti sesaat. Aku mendengar suara gedebuk di luar tak jauh dari gerbong keretaku.

            “Wah…Kasihan juga. Malam gelap gini dilempar keluar kereta,” ujar seorang bapak yang duduk di bangku sebelah.

            Sejenak kereta berangkat lagi. Sepuluh menit kemudian, setelah karcisku diperiksa dan ditandai, kantuk itu mencoba menculikku lagi. Aku tak melawan. Ada baiknya menyimpan sedikit tenaga untuk bertahan di ruangan dengan orang-orang yang lidahnya bergoyang-gombal berkoar tentang masalah bangsa, di Jakarta. Kenapa juga aku harus pergi?

            Aku tertidur. Balita itu menangis lagi. Aku tak peduli. Dengan rengekannya, bahkan dengan gundukan daging yang dikemutnya. Semoga bangun sudah sampai Jakarta.

***

 

            Sarmin, yang telah memutuskan untuk mengikuti Senja Utama Yogya, kini duduk di gerbong tujuh bersama penumpang-penumpang kereta yang arah haluan hendak menuju ibukota negara. Dia duduk dengan santai walau masih agak pusing karena kepalanya terbentur tegel setelah bertabrakan dengan seorang pria yang tidak memperhatikan jalan.

            Sarmin duduk dengan tenang. Dia mengelus-elus kursi, menyayanginya karena itu merupakan bagian dari kekasihnya. Sarmin terus duduk, tidak menghiraukan senja yang sedang kelelep. Dia hanya duduk sambil senyum-senyum. Sarmin tidak sadar, bahwa di Wates nanti, dia akan dihantam popor senjata api dan dibuang keluar dari kereta karena tak memiliki karcis, bahwa dia hanya bisa merangkak sedih melihat kekasihnya dibawa lari, bahwa dia terus merangkak mengikuti Senja Utama Yogya yang sudah tak kelihatan, bahwa dia merangkak di rel kereta, bahwa sebuah kereta lain dari Malang bernama Gajayana akan datang untuk menyerpihnya. Sarmin tidak sadar akan hal itu. Dia buta. Buta akan cintanya kepada kekasihnya: Senja Utama Yogya.

 

 

 

 

Senja Utama Yogya – Duren Sawit, 230307

G in Think

Anggota sastramungil

 

Highest Points

UserPoints
durgadurga1093
molen570
wahmuji421
mbik410
ginting321
sedik317
dalangpotehi282
sescoplo265
titiknol177
otakudang161