GENGSI

Yogyakarta daerah barat, November 2006.
Manda baru saja terbangun dari tidurnya. Matanya masih terasa berat, dan dengan enggan dia melirik jam dinding berbentuk hati yang tergantung di dekat pintu kamarnya.
Jam delapan pagi. Aku harus cepat-cepat.
Manda segera beranjak dari tempat tidurnya. Dia melangkah ke arah jendela. Empat langkah di sebelah kiri dari tempat tidurnya. Dia menarik kain halus yang berfungsi sebagai tirai penutup jendela ke sisi kirinya. Sinar matahari pagi segera masuk ke dalam kamarnya, membuat dirinya terlihat dari luar dengan jelas.
Manda mengarahkan kedua matanya ke bawah. Halaman depan rumahnya tampak anggun dengan sebidang tanah berumput yang ditumbuhi tiga pohon palem kecil. Di sebelah kirinya, lantai selebar enam meter yang terbuat dari semen menghubungkan jalan umum yang cukup sempit di luar dengan garasi dan teras depan rumah. Di sisi kiri rumah, bersebelahan dengan tembok pemisah, terdapat sebuah kolam berbentuk lingkaran yang cukup besar dengan keramik-keramik biru tua sebagai dasarnya. Dinding kolam itu terbuat dari porselin-porselin bujur sangkar berwarna putih. Sedangkan lampu kolam berbentuk bola besar yang disangga oleh batang besi vertikal, tegak berdiri di samping kanan kolam.
Manda melihat-lihat halaman depan rumahnya cukup lama, seakan-akan dia mencari sesuatu di halaman luas itu. Tetapi sebenarnya itulah hal pertama yang hampir selalu dia lakukan setelah bangun tidur. Memandangi halaman rumahnya untuk waktu yang cukup lama.
Sesaat kemudian dia melihat jam yang menunjukkan pukul enam lebih tujuh menit. Manda berjalan ke tempat tidurnya, merapikan selimut dan bantalnya yang berantakan di atas tempat tidur. Selesai merapikan, dia menyisir rambutnya yang panjang, hitam, dan lurus. Kemudian dia membuka pintu dan keluar dari kamarnya.
Hampir setengah jam lebih Manda kembali berada di kamarnya untuk merias wajahnya. Dia hampir selesai memoles bibirnya dengan lipstik berwarna merah muda cerah. Dilihat dari mereknya, lipstik itu bukanlah lipstik yang biasa tersedia di outlet-outlet kosmetik di mall. Namun, lipstik itu memberi kesan yang istimewa. Lipstik yang biasa dipakai artis-artis luar negeri.
Ketika keluar dari kamarnya untuk yang kedua kalinya pagi ini, Manda terlihat sangat cantik. Dia memakai tank-top berwarna putih dan jeans LEA berwarna biru tua. Kalung salib yang tergantung di lehernya, dan gelang-gelang keemasan di kedua tangannya semakin mempercantik penampilannya. Segala macam pernak-pernik lainnya dan sebuah dompet dimasukkan ke dalam tasnya yang bermerek Sophie Martin.
Manda sekarang duduk di sofa di ruang tamu di lantai bawah. Dia sedang menunggu teman-temannya. Hari ini dia, Mia, Nino, dan Ellen berencana pergi ke Mall Malioboro. Sebenarnya, hanya Manda-lah yang benar-benar punya “kepentingan” untuk pergi ke sana. Dia sudah berjanji untuk bertemu dengan Tio. Tio adalah laki-laki yang berkenalan dengannya sebulan yang lalu lewat Friendster. Dilihat dari fotonya di Friendster, Tio bukanlah laki-laki yang tampan. Dari skala satu sampai sepuluh, nilai ketampanan Tio hanya empat. Meskipun demikian, sms-sms Tio-lah yang membuat Manda menyetujui permintaan Tio untuk bertemu langsung.
Sms-sms Tio berisi kata-kata yang penuh pujian, kadang-kadang juga godaan. Manda merasa sangat senang dengan sms-sms Tio yang membuatnya semakin percaya diri dengan penampilannya. Apalagi, Tio juga tampak “gaul” dengan kata-katanya saat bersms ria dengan Manda.
Lima menit sejak Manda duduk di sofa, deru mobil Avanza terdengar dari kejauhan. Manda segera melihat ke arah luar. Di depan pintu gerbangnya, mobil Avanza biru berhenti dan membunyikan klakson tiga kali. Manda segera melangkah keluar rumah tanpa berpamitan dengan orang tuanya.
“Hi gals!” sahut Manda menyapa teman-temannya.
“Ini cuma ketemuan doank kan!? Sexy-sexy amat!? Kayak mo ngedance aja!” sahut Mia sambil membuka pintu mobil.
“Heeh, kamu sirik ya? Yang namanya kesan pertama tuh penting. Makanya aku harus dandan secantik dan seseksi mungkin!” jawab Manda sambil masuk ke mobil. Dia duduk di belakang Nino yang memegang setir mobil.
“Emang you yakin Tio itu tipe cowok idaman you?” tanya Ellen penasaran.
“Ya ntar liat aja.” jawab Manda santai.
Mobil segera melaju perlahan-lahan di antara rumah-rumah yang penghuninya tampak sedang sibuk. Keluar dari gang, mobil itu berbelok ke kiri menuju jalan raya.
Mall Malioboro mungkin salah satu bangunan megah di Yogyakarta. Terletak di jalan Malioboro yang terkenal, mall tersebut selalu ramai oleh orang-orang yang hendak berbelanja atau cuma berjalan-jalan saja. Kebanyakan yang berkunjung ke sana adalah orang-orang yang berasal dari luar Yogyakarta. Di tempat parkir di bawah, terlihat mobil Avanza biru yang baru saja diparkir di antara Mercedes BMW dan Peugeot.
Manda, Mia, Nino, dan Ellen beranjak keluar dari mobil yang baru saja diparkir. Mereka berjalan bersebelahan kembali ke atas menuju ke pintu masuk karena di situlah tempat pertemuan yang disepakati Tio dan Manda.
Di dekat pintu masuk terlihat seorang laki-laki memakai T-shirt merah, celana jeans, dan sepatu kets yang berwarna merah juga. Dia berdiri di dekat kerumunan orang yang keluar masuk mall. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jeans-nya. Dia bersandar di tembok.
Tinggi laki-laki itu mungkin sekitar 170 sentimeter. Rambutnya hitam kelam, bergelombang, dan panjangnya sampai ke batas leher. Wajahnya oval dan hidungnya mancung. Perawakannya kurus. T-shirt yang dipakainya melekat ketat di tubuhnya, membuat otot-otot di lengannya terlihat jelas. Lelaki bernama Tio itu melihat ke arah rombongan cewek yang baru saja datang. Tiga cewek memakai T-shirt tak berlengan, dan yang satunya memakai tank-top berwarna putih. Tio memperhatikan cewek yang memakai tank-top itu dengan lebih seksama. Sekilas, terlihat senyum mengembang di wajah laki-laki itu.
“Kamu yang bernama Manda ya? Aku Tio yang kenalan sama kamu di Friendster itu.” tanya Tio setelah mereka mendekat.
“Oh iya. Kok kamu tau kalo Manda itu aku?” tanya Manda.
“Loh, kan kamu sendiri yang bilang kalo kamu pake tank-top putih!” jawab Tio mengingatkan Manda.
“Oh iya, ini kenalin temen-temenku!” kata Manda sambil bersalaman dengan Tio.
Tio segera mengalihkan pandangannya ke tiga cewek yang berdiri di belakang Manda. Mereka segera bersalaman dan saling menyebutkan nama. Mereka pun segera berjalan-jalan mengelilingi mall. Tio dan Manda berjalan di depan Mia, Nino, dan Ellen. Sambil berjalan dengan santainya, Tio dan Manda saling bercerita tentang diri mereka masing-masing. Mulai dari hobi, film The Da Vinci Code yang sedikit berbeda dari novelnya, dosen-dosen di kampus mereka, sampai ke pengalaman Manda menjadi cover girl di berbagai majalah. Mereka juga melihat-lihat CD terbaru artis-artis luar negeri di Disctarra, Nokia N92 yang harganya turun drastis di counter-counter HP, dan berbagai merchandise lainnya. Sesekali Tio juga mengobrol dengan Mia, Nino, dan Ellen ketika Manda dengan sendirinya melihat-lihat merchandise yang memikat perhatiannya.
Pagi mulai berganti siang. Sudah hampir satu setengah jam Tio, Manda, Mia, Nino, dan Ellen berjalan-jalan mengelilingi mall. Akhirnya, mereka mulai merasa capek dan lapar. Membaca raut wajah Manda dan teman-temannya, Tio menawarkan dirinya untuk mentraktir mereka makan di tenda-tenda kaki lima di sekitar mall. Tetapi usaha Tio gagal. Manda dan teman-temannya menolak ajakan Tio dengan cara yang sangat halus. Meskipun demikian, ada sesuatu yang membuat Manda dan teman-temannya terlihat cemberut ketika Tio mencoba mengajak mereka makan.
“Kita kayaknya langsung pulang aja deh. Udah capek nih!” kata Manda menolak ajakan Tio.
“Iya, apalagi nanti sore kita juga mo ada acara.” tambah Ellen menjelaskan.
“Oh ya udah deh kalo gitu. Tapi Manda pulangnya aku anterin ya?” kata Tio kepada Manda.
“Boleh.” jawab Manda sekenanya.
Mereka pun mulai melangkah keluar dari mal. Tio dan Manda berpisah dengan Mia, Nino, dan Ellen di pintu masuk mal. Mia, Nino, dan Ellen menuju ke tempat parkir mobil. Sementara Tio dan Manda berjalan ke menyusuri trotoar di depan mal.
“Kamu ga bawa helm kan? Aku dah bawa dua helm kok!” kata Tio tiba-tiba. Manda hanya tersenyum.
Ada sesuatu yang membuat Manda merasa tidak nyaman saat dia melihat Tio menarik mundur Shogun biru dari tempat parkir. Rasa tidak nyaman yang sama ketika Tio mencoba mentraktir dia dan teman-temannya. Secara refleks Manda memasukkan tangan kanannya ke dalam saku jeans, menarik keluar HP kesayangannya. Dia kemudian membunyikan ringtonenya. Dan seolah terkejut dengan bunyi ringtonenya, Manda melakukan sesuatu yang sudah biasa dia lakukan.
“Halo!” kata Manda tiba-tiba. Tio menoleh kepadanya.
“Hah!? Kenapa?” kata Manda lagi. Tio tampak bingung.
“Oh iya iya! Aku langsung ke sana ya!” kata Manda sambil melihat Avanza biru yang berhenti di tepi jalan, hendak menyeberangi jalan.
Melihat kebingungan Tio, Manda menjelaskan bahwa kakeknya sekarang dalam kondisi kritis di Rumah Sakit Bethesda. Dia harus segera ke sana untuk menjenguk kakeknya dan tidak bisa pulang dengan Tio.
Sambil setengah berlari ke arah Avanza biru, Manda mengucapkan “sorry ya” kepada Tio yang nampak kebingungan. Tidak lama kemudian pintu Avanza biru terbuka dan Manda masuk ke dalam.
“Gimana Nda? Kayaknya kamu lagi apes deh! Untung kita masih mo nungguin kamu. Coba kalo enggak!” kata Mia menertawakan Manda.
“Huh, gila tuh orang! Ga sadar ya! Nyebelin banget sih!” kata Manda sambil cemberut.
“Makanya kalo ada cowok yang ngajak ketemuan tuh jangan langsung setuju. Liat-liat dulu orangnya!” kata Nino menasehati.
“Udah deh! Ke Solo Grand Mall aja yuk. Kata temenku, di sana ada Swiss Burger yang lebih enak dari Mc’D lho.” kata Manda sambil mencoba melupakan kejadian tidak menyenangkan yang baru saja dialaminya.

Recent comments
17 hours 16 min ago
21 hours 29 min ago
1 day 15 hours ago
1 day 22 hours ago
1 week 19 hours ago
1 week 20 hours ago
1 week 2 days ago
1 week 2 days ago
1 week 2 days ago
2 weeks 9 hours ago