Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

 

aib

wiwi basuki's picture

:unii

tak pernah kita pergi memancing
atau bercanda dengan pulau-pulau yang kesepian
sebab kota riuh merayu

tapi segalanya jadi lumrah
air naik dan seribu burung mencecap awan
akar-akar bakau yang fasih mengeja cuaca
dan lumpur di rawa-rawa dangkal
cuma lekat di matamu

seharusnya kita berlibur saja
aku ingin tidur dan kau puaskan minum air kelapa
karena udara segar dan rambutmu seperti harum pandan

tapi begitulah
langit bersalin
kita iseng melempar pasir yang asin,
berburu kepiting, atau menunda lupa
pada batu karang di dada

selangan, 26 juni 2008

wahmuji's picture

Rindu Pantai

-Untuk setia pada ruang ini, yaitu "comment", tulisan ini bukanlah sebuah kritik sastra. itu alasan yang juga bisa dibaca sebagai bentuk permintaan pemakluman saya.-

Membaca puisi Wiwi Basuki dalam website ini yang berjudul "aib", "nelayan 1", dan "nelayan 2", saya bertemu dengan satu "pemandangan" luas, yaitu laut. khusus dalam puisi "aib" saya pertama tertarik dengan judulnya yang mengingatkan saya pada novel "Disgrace" karya J.M. Coetzee yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul "Aib".

Terus terang, setelah membaca puisi ini saya masih merasa bingung karena tidak menemukan hubungan antara isi puisi dan judulnya.

Aib, yang dalam arti sederhananya kejelekan, sangat mungkin merupakan kesimpulan isi puisi yang berisi kerinduan terhadap pantai karena "aku ingin tidur dan kau puaskan minum air kelapa, karena udara segar dan rambutmu seperti harum pandan" yang seharusnya dilakukan aku bersama "yang lain" yang tidak bisa tercecap karena lumpur di rawa-rawa dangkal-lah yang "cuma lekat di matamu".

Maka kerinduan tidak terlaksana. pun "batu karang di dada" tetap melekat dan tetap lekat di ingatan. rayuan kehidupan kota yang sesak membuat pulau-pulau kesepian.keinginan untuk memancing atau bercanda di pulau-pulau itupun hanya angan. hanya kerinduan. kerinduan yang tak tersampaikan. kemungkinan Aib yang dimaksud adalah yang demikian. dengan anggapan itu saya merasa puisi ini menimbulkan ironi: di perkembangan peradaban kota yang sesak di 17 ribu pulau Indonesia dengan lebih banyak lagi jumlah pantainya ini, pantai hanya sebuah kerinduan bagi orang yang mengajak kekasihnya (mungkin) yang terlalu sibuk dengan hiruk pikuknya..
dan "aku" tetap menanti sang kekasih untuk diajak bersama menyepi melupakan beban yang berat yang ia, dan mungkin kekasihnya pikul bersama..

durgadurga's picture

nyaman

tidak mengapa, saya membaca puisi ini jadi berasa nyaman, langsung terasa asinnya angin pantai dan amisnya aib yang ada..

salam,
amarah durga

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <img> <br> <br /> <p> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Textual smileys will be replaced with graphical ones.
  • You may quote other posts using [quote] tags.
  • Lines and paragraphs break automatically.

More information about formatting options

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
Image CAPTCHA
Copy the characters (respecting upper/lower case) from the image.
 

Highest Points

UserPoints
durgadurga1093
molen559
wahmuji421
mbik410
sedik317
ginting307
dalangpotehi282
sescoplo265
titiknol177
otakudang161