Harga minyak akan mencapai $250 per barrel dalam waktu dekat.

Mengapa harga minyak naik? Apa efeknya?
Harga minyak dunia naik karena:
1. Lemahnya nilai tukar dolar. Dan celakanya dollar masih digunakan dalam perdagangan minyak dunia. (Iran dan Russia berencara menggunakan mata uang Rubel Russia dalam perdagangan minyak, karena bukan hanya lebih stabil, namun juga untuk memutus hegemoni ekonomi Amerika). Jadi sebab pertama kenaikan minyak adalah ketergantungan pada dollar[1].
2. Spekulasi pasar, jadi bukan sekedar opini media yang menyatakan kalau sebab kenaikan harga minyak adalah permasalahan supply and demand yang tidak seimbang, terutama karena pertumbuhan ekonomi dan industri China dan India yang sangat pesat. Kesimpulan ini diperkuat oleh pernyataan Mentri Perminyakan Arab Saudi, Ali al-Naimi, yang menganggap kenaikan harga minyak dunia saat ini sangatlah tidak berdasaR[2].
3. Perang Irak dan kemungkinan serangan Israel/Amerika terhadap Iran. Inilah sebab utama kenaikan harga minyak dunia yang tidak teralu digagas oleh media besar.
- Perang Irak adalah pemicu utama kenaikan harga minyak. Sejak Bush naik tahta, kebijakan imperialismenya telah melipat gandakan harga minyak. Ketika Bush menginvasi Irak tahun 2003, harga minyak dunia sebesar $27 per barrel, atau sekitar $31 dalam perhitungan dollar setelah inflasi 2007. Kemudian tahun 2004, harga minyak naik $10 (atau $42 dalam dollar tahun 2007). Kemudian naik $12 di tahun 2005, $7 di tahun 2006, dan di tahun 2007 naik sebesar $65. Namun dalam beberapa bulan belakangan ini (sampai Juni 2008 ini) harga minyak telah lebih dari dua kali lipat dari harga sebelumnya, yaitu mencapai kisaran $135 per barrel. Jadi selama pemerintahan Bush, harga minyak naik dari $27 menjadi sekitaran $135. Hanya spekulasi pasar yang dipicu dari ketidak stabilan politik Timur Tengahlah yang bisa menjelaskan kenaikan tajam ini [3]. (Media membangun opini publik untuk percaya kalau invasi ke Irak akan menurunkan harga minyak. Rupert Murdoch, pemilik Fox News, seorang konservativ pro-Bush, bahkan sempat mengatakan dalam interviewnya di Fox sendiri, kalau harga minyak akan turun menjadi $20 per barrel, karena Amerika akan menguasai sumber-sumber minyak Irak.)
Belum lama ada ekspektasi turunya harga minyak ketika capres Amerika dari partai Demokrat, Barack Obama, berjanji mengakhiri konflik Timur Tengah dan menekan kepentingan imperialisme Israel. Namun, setelah Obama menang menjadi calon presiden dari partai Demokrat, harapan ini kandas karena pada akhirnya Obama sependapat dengan Bush mengenai Iran dan berjanji untuk setia kepada AIPAC (American Israel Public Affairs Committee), Israel lobby paling kuat di Amerika. Dengan ini harga minyak dipastikan akan membumbung tinggi [4].
- Kemungkinan serangan Israel/Amerika ke Iran dalam waktu dekat semakin membuat harga minyak tak terkendali. Niat Israel dan Amerika untuk menyerang Iran telah meningkatkan permintaan dunia untuk membeli minyak dalam secara besar-besaran sehingga mempunyai cadangan guna mengantisipasi krisis minyak setelah nanti invasi ke Iran dimulai [5]. (Iran adalah negara produsen minyak terbesar ke 4 di dunia).
Bahkan, seperti dilansir Reuters 6 Juni lalu, Israel telah mematangkan rencana untuk segera menyerang Iran. Mentri Transportasi Israel, Shaul Mofaz, Jumat 6 Juni menyatakan “menyerang Iran, untuk menghentikan program nuklirnya, tidak terhindarkan lagi.” [6]. Pernyataan ini langsung memicu angka tertinggi kenaikan harga minyak dalam sejarah, yaitu mencapai $139 per barrel. Angka ini akan terus naik.
Mengapa Amerika ngotot untuk menyerang Iran? Target utama Amerika bukanlah Irak, melainkan Iran. 75% cadanganminyak dunia terdapat di Teluk Persia (terutama di wilayah Arab Saudi, Irak dan Iran). 75% populasi sekitar Teluk Persia adalah Shiah, yang terkenal revolusioner dan radikal terhadap kebijakan Amerika. Dan satu-satunya negara Teluk yang tidak mau tunduk adalah Iran [7]. Dengan dikuasainya minyak Iran, Amerika akan leluasa dalam menentukan harga minyak dunia. Namun invasi ke Iran akan memicu krisis minyak dan krisis pangan dunia dan kelaparan karena melambungnya harga minyak, dan juga memicu perang besar dan konflik baru antara Iran dengan Israel.
Melihat segala kemungkinan ini, koran The Independent Inggris bahkan telah memprediksi bahwa harga minyak dunia akan mencapai $250 per barrel dalam waktu dekat ini (harga saat ini sudah mencapai $139). Hal ini berarti kemungkinan naiknya harga bahan bakar sampai 100% atau lebih, diikuti kenaikan harga pangan dan energi lainya secara sangat signifikan [8]. Krisis energi akan melanda dunia. Stok pangan dunia telah mencapai titik terendah dalam beberapa dekade terakhir, terutama di Afrika. Bahkan di Amerika sendiri stok pangan mencapai titik terendah dalam 60 tahun terakhir [9]. PBB memperingatkan kalau harga pangan dunia akan terus naik selama setidaknya satu dekade kedepan [10]. Sayangnya krisis ini dimotori oleh segelintir orang saja, yang menguasai ekonomi dan militer. Harga-harga dipastikan naik secara signifikan dalam waktu dekat, dan semoga semua bisa bersiap.
1. Paul Craig Roberts, 11 Juni ’08, “Why the oil price is high”. www.informationclearinghouse.info/ article20072.htm
2. Paul Craig Roberts, ibid.
3. Paul Craig Roberts, ibid.
4. Paul Craig Roberts, ibid
5. Paul Craig Roberts, ibid.
6. Dan Williams, 6 Juni 2008, “Should Iran Launch Preemptive Strike On Israel?”, REUTERS, http://www.reuters.com/article/latestCrisis/idUSL06251958
7. Pepe Escobar, 2 Mei 2008, “How under-the-gun Iran plays it cool”, Asia Times, http://www.atimes.com/atimes/Middle_East/JE03Ak05.html
8. Danny Fortson, 12 Juni 2008, “Price of oil will double”, Independent, http://www.independent.co.uk/news/uk/home-news/an-ominous-warning-that-t...
9. Eric Reguly, 12 April 2008, “Why cost are climbing”, Globe and Mail, http://www.theglobeandmail.com/servlet/story/RTGAM.20080410.wfood0411/BN...
10. Democracy Now, 30 Mei 2008, democracynow.org

BBM naik tinggi-Susu tak Terbeli
Setuju Bro...........
Tetapi kenapa indonesia yang memiliki banyak kilang minyak justru harus ikut2an menaikan harga minyaknya-ataupun seharusnya indonesia memiliki untung yang berlimpah dengan kondisi sekarang tetapi kenapa justru dibilang APBN tekor karena subsidi????
Inilah kunci pembodohan yang dilakukan oleh pemerintah kita, terlepas dari konstelasi politik luar negeri (bagi kalian yang alergi dengan kata politik tetapi mengaku sebagai nasionalis dan patriot pancasila), apakah kalian akan diam saja dengan kilang minyak Indonesia yang sebagaian besar dikuasai asing???dan mayoritas rakyat Indonesia hidup dibawah garis kemiskinan??kalau tidak.....jelaskan konsep nasionalisme dan patriotisme kalian. Atau mari kita bersama2 tidak peduli dan menunggu mati seperti hewan dipeternakan.
mandi minyak tengah malam, jangan kau lakukan.
saya punya seorang paman yang bekerja sebagai akuntan di salah satu perusahaan pengeboran minyak. nama perusahaan itu PETROCHINA. dari perbincangan dengan paman saya itu saya dapat berkesimpulan seperti ini:
Indonesia, sebagai "pemilik" wilayah berminyak ini, menggunakan "bantuan" teknologi asing dalam usaha menyedot keluar minyak mentah dari perut bumi. bantuan teknologi ini tentunya berujung pada perjanjian kerjasama, yang sayangnya cenderung "tidak menguntungkan" kedua belah pihak. katakanlah seperti ini, PETROCHINA dan Pemerintah Indonesia bagi hasil 50-50 atas minyak mentah yang berhasil disedot. minyak mentah jatah Indonesia (yang 50 itu) tak selalu betah di tangan Pemerintah. It slips through the government's dirty lily fingers! PETROCHINA lebih sering membeli kembali minyak jatah Indonesia. inikan gila! mungkin saya belum bisa memberikan data rinci seperti yang dilakukan mas Hidayat. tapi, saya pikir, bayangkan saja, Pertamina mengaku "kewalahan" memasok persediaan minyak dalam negeri, belum lagi bicara taktik licik pemasaran dan distribusi. kalau kebanyakan perusahaan minyak luar yang beroperasi di Indonesia membeli minyak yang bukan jatah mereka, untuk diolah di negara asal perusahaan itu, bukankah Indonesia akhirnya tidak mendapat apa-apa, kecuali tunai hasil transaksi itu? kemana tunai itu bersemayam? tak heran jika persentase impor minyak jadi lebih tinggi dari pada produksi dalam negeri. benarkah Pertamina tidak sanggup mengelola seluruh sumur minyak yang ada di bumi nusantara ini? saya tidak yakin mereka tidak sanggup.
keputusan yang dibuat pemerintah pertama kali pasca naik tahtanya Soeharto adalah "pintu investasi luar negri dibuka selebar-lebarnya." ini berkaitan erat dengan kudeta terhadap pemerintahan demokrasi terpimpin-nya Soekarno. bonekanya adalah sang oportunis Soeharto. latarnya adalah G30S/PKI. dalangnya? saya rasa anda sudah bisa menjawab sendiri.
semuanya mengacu ke bisnis oligarki yang dijalankan oleh segelintir korporat maha-harta itu. pemerintah lebih suka membiarkan lebih banyak minyak indonesia diekploitasi pihak luar dari pada mengelolanya sendiri. karena, secara instan, hal ini menebalkan kantong mereka.
sebuah hitung-hitungan pernah dilakukan oleh Kwik Kian Gie. tak pernah ada yang namanya subsidi. semua bohong! pemerintah masih tetap untung, pun ketika minyak impor lebih banyak dibeli indonesia. dari mana minyak impor itu dibeli? kemungkinan besar dari perusahaan-perusahaan minyak yang mengolah minyak mentah dari indonesia juga. dan mengapa pemerintah tetap mau mengimpor??? tanyaken apa.
pertanyaan tentang "mengapa Indonesia, yang merupakan negara penghasil minyak, justru menaikkan harga minyak buat rakyatnya sendiri, dan seakan-akan hendak bangkrut sementara harga minyak dunia melambung tinggi?", memang secara umum beredar. Indonesia memang mengekspor minyak. pertanyaannya lagi: mengapa status "pengekspor" sekaligus "pengimpor" minyak ini bisa dilakoni Indonesia. kalau memang yang diekspor adalah minyak mentah dan yang diimpor adalah minyak jadi, mungkin jadi masuk akal. tapi kenapa harus mengimpor minyak jadi? kenapa tak bangun saja instalasi penyulingan minyak mentah dalam negeri, dan menjadi swasembada dulu? tampaknya kebutuhan rakyat rendah nilai tawarnya!
Gie, dalam hitung-hitungannya itu, dengan jelas memaparkan bahwa angka ekspor minyak indonesia masih lebih rendah dari angka impor. inikan gak masuk akal! kalau masih kekurangan, ngapain ngekspor?
bumi Indonesia sudah dibor sedalam-dalamnya. dan pelakunya kebanyakan bukan anak-negeri. pemerintah hanya bertindak sebagai pemberi izin saja. terang saja mereka memberikan izin. pastinya mereka takut dikudeta seperti Soekarno yang dengan lantang menolak kehadiran pihak asing. akh, kalau saja Indonesia mau lebih bersabar membangun pertiwinya seperti Kuba...
salam,
ginting
Post new comment