Mengenai Dialog Agama

sigit sastrosupadyo's picture
Oleh kawan sigit sastrosupadyo, Jumat 21-11-08 15:55

Maaf, berkenaan dengan kepentingan penulis dan mentaati keadah atau etika jurnalistik, tulisan berjudul "Sekat-sekat krusial Dialog Beragama" telah dihapus.

Kerima kasih

Apresiasimu: None Apresiasi: 4 (1 Apresiator)
wahmuji's picture
Masalah Agama di Indonesia
Komentar dari kawan wahmuji, Selasa 25-11-08 01:57

Saya setuju dengan beberapa poin dari tulisan yang dihadirkan kawan Sigit, diantaranya:

1. Dialog antar agama memang (sejauh yang saya baca entah itu dari obrolan 'ringan' sampai dialog yang sengaja diselenggarakan untuk tujuan-tujuan tertentu) tidak pernah mencapai substansi teks.

2. Ajaran agama memang dianggap sebuah pengecualian logika ketika sains mulai mempertanyakan ke-hakiki-an semesta.

3. Agama, terutama yang besar di Indonesia, mempunyai sejarah gelap perbudakan dan penjajahan.

Ketiganya adalah fakta sejarah yang sering di'lupakan' para pemeluk agama negeri ini (apalagi menjelang pemilu yang multi-partai dan multi-bendera agama!). Kasus Ambon '98 dan kasus Sampit adalah sebagian kasus lain yang terjadi atas nama 'agama'. pun, pemboman Amrozi dkk. juga memakai pembenaran ajaran agama. bahkan, yang paling baru, film yang diproduksi si cantik Marcella Zalianty juga ikut diihalang-halangi proses produksinya karena dianggap komunis!

Menurut saya, ada beberapa masalah pokok tentang keagamaan yang sangat menonjol di Indonesia:
Pertama, masalah perbedaan penafsiran ajaran agama oleh kelompok pemeluk agama yang sama. kasus ini terjadi, misalnya, dalam penyerbuan FPI terhadap kelompok Islam Liberal.

Kedua, fanatisme keterlaluan atas suatu ajaran agama tertentu yang melahirkan kekerasan terhadap pemeluk agama atau kepercayaan lain. Misalnya kasus penyerbuan, lagi-lagi, FPI terhadap Sapta Dharma.

Ketiga, Ketegangan sejarah kaum penganut agama dan komunis (yang selalu dianggap atheis). Contoh kasusnya ya, penghentian produksi film itu tadi.

Sebenarnya kalau mau dihadirkan semua, akan berderet-deret kasus yang melibatkan kepercayaan atas agama di Indonesia. Bagaimanapun, sejarah peradaban, termasuk di Indonesia, adalah 'sejarah agama'.

Masalah pertama adalah masalah intern agama. Pemerintah adalah pelindung kebebasan beragama. Jadi, logikanya, selama tidak bertelur menjadi tindakan kriminal menurut hukum positif Indonesia, semua pemeluk agama tertentu boleh menafsirkan ajarannya. MUI adalah simbol ketidakbebasan itu.

Masalah kedua adalah simbol berlakunya hukum ganda di Indonesia: Hukum Negara dan Hukum Agama. Sayangnya, Hukum Negara sering tak bergeming melihat pemerkosaan kebebasan yang dilakukan oleh Hukum Agama (yang sering menjadi Hukum Jananan).

Masalah Ketiga berkaitan dengan kebebasan berideologi, yang artinya kebebasan berpikir. Yang nyata yang sederhana ya diwajibkannya kita (warganegara Indonesia) mengisi jenis agama yang kita anut ketika membuat KTP. Masalah ini diperumit dengan kokohnya penanaman dogma komunis yang keji komunis yang tidak bertuhan komunis yang menjadi sejarah gelap-tertutup bangsa Indonesia. Parahnya, banyak tokoh intelektual yang masih juga gelap mata terhadap penemuan-penemuan sejarah yang lain atas pergolakan '65 itu.

Saya punya satu pengalaman tentang ketegangan beragama, khususnya kecurigaan yang menimbulkan tindakan nyata. Dulu, saya pernah terlibat aktif dalam sebuah komunitas pendampingan belajar anak. komunitas ini membuka daerah dampingan di pelosok desa tertentu untuk membantu anak-anak sekolah belajar. singkatnya, karena anggota kelompok ini sebagian besar berasal dari kampus katolik, kami dianggap melakukan 'kristenisasi' dan dilarang 'mengajari' anak-anak lagi. tentu saja saya kaget, lha wong di KTP saya beragama Islam dan tidak semua anggota kami beragama katolik atau kristen! akhirnya, setelah berembug dengan pemilik rumah tempat kami membantu anak-anak belajar, kami menghentikan kegiatan untuk menghindari ketegangan lebih lanjut.

Di dunia ini perang kaum fundamentalis Kristen dan Islam masih belum mencapai episode akhir. dan di Indonesia, saya curiga, ketegangan antar-umat dan bahkan intern-beragama sengaja dibiarkan untuk mencegah perkembangan pikiran kritis masyarakat. bayangkan saja, buku yang paling laris di Indonesia, selain Fiksi Populer adalah buku agama! lalu, di mana letak buku-buku pengetahuan lain dalam pikiran masyarakat Indonesia?

Saya setuju dengan keterbukaan dialog antar-agama dan antar agama-kepercayaan. bahkan, yang juga tidak kalah penting, dialog antar-ideologi. Saya melihat sebagian besar masyarakat sudah jenuh dengan konflik-konflik atas nama agama yang konyol yang selalu dijadikan sensasi oleh mediamassa. Mediamassa itu milik siapa?

sigit sastrosupadyo's picture
suwun, kawan wahmuji!
Komentar dari kawan sigit sastrosupadyo, Rabu 26-11-08 09:27

terima kasih atas opini yang diberikan kawan wahmuji mengenai topik tulisan ini.
apapun agamanya, kita tetap satu: Indonesia.

*tulisan dan ulasan Anda bagus, kawan!