Jangan Biarkan Idealisme Mendingin

Meringis rasanya kalau karya tulis yang katanya scientific itu diukur keseriusannya lewat jumlah halaman yang tercetak. Ini bicara soal skripsi. aku rasa tak harus menunggu sampai kuliah untuk gelar master atau doktor untuk menulis sebuah karya penelitian yang serius (dan bukan hanya sekedar "formalitas" agar bisa "cepat lulus" dari kuliah yang katanya dilakoni orang-orang intelek itu. mahasiswa seharusnya diberi semangat untuk menunjuktahukan pada khalayak ramai tentang apa yang telah didapatnya selama berproses di kampus (salah satu cara melihat apa yang didapat seseorang itu lewat karya tulis "akhir" yang ditulisnya).
Menjadi idealis bukan berarti buruk. Kaum kapitalis itu bisa menguasai dunia justru karena mereka sangat idealis dengan kiblat pikir mereka. lalu mengapa para mahasiswa tidak dipercaya untuk menerapkan idealisme pikir mereka dalam skripsinya? apa sebenarnya tujuan dari para fasilitor kelas (yang petuah dari mulutnya itu sangat berpengaruh pada pola pikir mahasiswanya) untuk memproklamirkan skripsi hanya sebagai sebuah karya tulis yang berujung pada formalitas kelulusan saja, sebagai sebuah karya tulis yang dibuat "gampang" agar "cepat lulus", sebagai sebuah karya tulis yang "jangan dibuat susah" (entah apa arti kata susah dalam konteks ini?), sebagai sebuah karya tulis yang jangan dibuat "terlalu idealis", sebagai sebuah karya tulis yang tak usah ditulis dengan menghabiskan banyak halaman, sebagai sebuah karya tulis yang, kalau tebal, akan merepotkan para reader untuk membacanya, dan lain sebagainya? untuk akreditasi kampus, kah? atau untuk akreditasi kampus dengan topeng mulia: agar jangan terlalu banyak uang dikeluarkan orangtua mahasiswa karena anak-anak mereka membutuhkan waktu lebih dalam studinya, kah?
kata kawanku, wahmuji, jumlah halaman bukan standar untuk menilai keseriusan seseorang dalam menuangkan hasil penelitiannya. bukankah halaman hanya efek dari keluasan topik yang didiskusikan si penulis?
yang seharusnya dijaga adalah kehangatan semangat dari idealisme yang diusung dalam melakukan sesuatu. kalau hanya ingin menyemangati mahasiswa agar jangan terlalu lama menyelesaikan tugas akhir mereka, aku rasa itu tidak salah. tapi, yang dirujuk harusnya adalah faktor-faktor yang biasanya membekukan semangat mereka menulis. bukan dengan menyuruh mereka menulis skripsi yang tidak tebal, yang tidak idealis, yang tidak susah-susah saja. kapan mau maju? tak heran kalau akhirnya, mahasiswa S2 kita, yang juga berasal dari level S1 yang sudah terpola pikirannya tentang "kesederhanaan" aneh dalam menulis tugas akhir itu, mengaggap ilmu neurolinguistik sebagai sebuah ilmu yang benar-benar segar dan baru. maka orang luar pun akan terus terkekeh melihat ketertinggalan kita.
ketika semangat beku, waktu pasti berlari cepat meninggalkan penulis-penulis skripsi. itu sudah pasti. kemalasan, kesibukan atas urusan-urusan lain, kegamangan atas posisi transisi dari dunia akademi ke dunia meta-akademi, dan lain sebagainya itu, pasti bisa mendinginkan idealisme serta keseriusan mahasiswa dalam menulis skripsi. sehingga akhirnya kepasrahan luculah yang dengan terpaksa akan dianut mereka.
Menulislah dengan pikiran terpusat dan semangat terjaga. Bacalah gejala. Telitilah sedalam kemampuan kita. Kritislah terhadap situasi yang dihadapi. Jangan telan mentah-mentah. Karena tak semua yang terlihat enak baik bagi pencernaan.

dianggap goblog, tak diajari cara supaya pintar
ya, bacalah gejalanya. kamu benar.
ungkapan tentang 'pelarangan' menulis dgn 'idealisme', apalagi dari dosen, untuk sebuah skripsi adalah sebuah gejala yang mengkhawatirkan. pernyataan itu terucap dengan, tentunya, pembacaan terlebih dahulu terhadap fenomena kegiatan akademis yang berlangsung di lingkungan proses kegiatan belajar mengajar. pertanyaannya adalah, apa yang melatarbelakangi pernyataan ironis itu? fenomena apa yang telah para dosen itu baca? bagaimana cara mereka membacanya? bagaimana sebuah skripsi dikatakan idealis?
jawaban dari rentetan pertanyaan itulah yang akan membawa kita pada dialektika yang sehat, yang akan membawa kita memahami secara kritis tuntutan-tuntutan dan larangan (nasehat) tak tertulis dari pihak dosen.
aku pikir, pembatasan kedalaman penelitian S1 dan asumsi-asumsi atas ketidakmampuan mahasiswa merupakan pegangan kuat para dosen. ada yang pernah bilang begini,"diberi sedikit saja, mahasiswa sudah kesusahan, apalagi kalo banyak."
tapi menurutku begini, klo mahasiswa diberi 6 hanya mampu dapat 3 atau 4, berikan mahasiswa 9, maka mereka akan dapat 6 atau 7. klo perlu adakan kelas terbuka. gitu aja kok repot?
Kasihanilah mereka kawan...
mungkin saja, dosen2 itu tidak lagi menghargai dirinya sendiri dan kita sebagai bimbingannya. Mungkin memang terasa menjengkelkan memikirkan figur yang seharusnya apalagi kita BAYAR untuk mengajar malah membodohi kita, tapi jujur saja aku merasa kasihan dengan mereka itu, hidup hanya demi sesuap nasi...
karena mungkin saja, mereka berpikir bahwa tak ada gunanya mencari jawaban atas pertanyaan yang tidak populer. Mereka pernah mempelajari bahwa hidup bukan hanya sekedar reproduksi dan konsumsi namun sepertinya mereka takut dan terhempas gelombang besar. Skripsi yang seharusnya menjadi hasil karya ilmiah mahasiswa yang teruji dan empiris, hanya menjadi sebuah alat mendapatkan legalitas. tentu saja jika skripsi hanya sebuah syarat legalitas, mengapa harus idealis? tujuan yang ingin dicapai hanya legalitas itu saja, bukan tujuan-tujuan lain yang bisa dikaji lebih dalam. sebaiknya sih menurutku bagi para kaum religius, doakanlah mereka supaya bisa kembali melihat dan mengecap.
seperi kata ginting, jangan biarkan idealisme mendingin, karena idealisme adalah sebuah indra untuk merasa, sebuah identitas untuk dirasa, dan seperti kata mas dalang "karena rasa adalah segalanya"
singkirkan dosen pragmatis reduksionis! hidup sastra dan cinta!
spakat pakde!!
Sastra inggris sadhar semakin memprihatinkan dengan bertaburnya dosen-dosen pragmatis!
jengkel, marah dan kecewa rasanya.
sastra yang sesungguhny berpotensi sebagai ladang kaum intelektual dan teori kritis kini dijinakkan dngn hegemoni pandangan para dosen pragmatis yng reduksionis.
untuk mnjadi pragmatis ataupun idealis memang sebuah pilihan. tetapi vatal, ketika yang pragmatis ialah dosen, yng pada awalnya diharapkan untuk memberi stimulus pada mahasiswanya, malah melakukan yng sebaliknya.
kegairahan intelektual dianggap "sok idealis".
bagaimanapun juga, kseluruhan proses penggarapan skripsi (trmasuk pmilihan topiknya) merupakan representasi ideologi.
terserah apa kata dosen pragmatis. yang jelas, tiap detail dalam keseharian kita, ialah representasi.
saranku sih sederhana aja,
tetaplah bercinta dgn sastra dan wacana, mari kita nikmati dunia.
Ampun!!!
Ada sebuah statement yang pernah diucapkan oleh seorang Yang Maha Agung yang pernah hidup di zaman dahulu, yang saya rasa cocok untuk diterapkan masa kini.
"Ampunilah mereka Bapa, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."
Bila Sang Maha Agung tersebut terpancing emosinya, bukan hal yang sulit baginya untuk turun dari salib itu dan melakukan pembuktian.
AMIN....
doakanlah mereka supaya cepat diterima disisiNya. diganti dosen2 yang lebih baik hati, tidak sombong dan suka menabung
Dosen pragmatis?
Singkirkan dosen pragmatis? Bagaimana kalo kita singkirkan dosen pragmatik?
kita bantai saja mereka dengan wacana!!!
orang mereka iotu ndak pinter2 banget kok,.aku yakin itu,.dosen pragmatis kaya asu iku, masa ditanyain knpa black english ndak bisa bicara tertata, jawabanya karena black english gak dapet pendidikan bener.(si Siluman tengkorak yang njawab).dangkal banget..
kita belajar sendiri aja, abis itu gantian kalo ujian skripsi ato di kelas kita yang habisin mereka,he..he..
mereka ndak layak hidup!!!
ANTEK2 NEKOLIM (NEO KOLONIALISME IMPERIALISME) PENJAJAHAN DAN PENDUDUKAN GAYA BARU
buat mereka malu di kelas.
mereka ndak layak dihormati (diajeni)
jangan pernah patuh sama mereka..
kalau suru keluar kelas cz gak pakai sepatu,,.keluar aja yang lama (yang penting udah absen,.he..he..)
kalau mereka ngajar,.kalau nggak dibantai ya ditinggal baca atau tidur aja...ha..ha.
weeiiit?
kok jadi anarkis begini yak? kalau kita sama anarkisnya berarti sama aja boong donk. aku sih lebih milih biarkan aja mereka begitu toh kalau kita bisa jadi contoh yang bener, kita bisa merubah, setidaknya generasi berikutnya... lagian tindakan frontal belum tentu jadi solusi yang terbaik. ingatlah sebuah taktik perang dari negeri cina, dekati temanmu dan yang lebih penting lagi mendekatlah ke musuhmu. kalau musuhmu itu terlalu kuat jangan dilawan, jadikan mereka sekutu kita.. kira2 sih begetoo
mmm,.maksudnyia?
tidak tahu? atau tidak mau tahu?
jika tidak tahu yang dimaksudkan berdasarkan kekuatan alam bawah sadar, memori terepresi yang ingin mencoba keluar melalui ketidaksadaran, maka yang perlu dilihat lagi adalah lingkungan sekitar orang tersebut, bagaimana bisa membentuk pola pikir yang semacam itu.
karena proses internalisasi banyak berperan disini.
ambil contoh (konkretnya), lingkungan semacam apa, dengan sistem yang bagaimana yang hidup di sekitar dosen pragmatis-bukan hanya dosen pragmatik- yang kemudian bisa mempengaruhi pola pikirnya.
jika diasumsikan, dosen menjadi pragmatis karena sistem akademis di sastra inggris begitu ketat, karena persaingan, dan ketika yang menjadi penilaian ialah masa studi mahasiswa dan perbandingan jumlah lulusan, maka sangatlah mungkin pertimbangan2 tersebut yang dijadikan dasar pola pikir yang pragmatis, yang hanya memikirkan hasil, ketimbang proses. hasil yang diprioritaskan pun yang memberi keuntungan secara langsung pada prodi, bukan mahasiswa.
kok ribet sih tulisanku.
pada dasarnya, (menurutku) sangatlah naif jika sikap para dosen tersebut berdasar pada ketidaktahuan.
lha wong , kita saja yang belum lulus s1, bisa paham ada relasi kuasa dibalik "wacana" (harus cepat lulus dgn skripsi yng ngk usah dibikin ribet juga termasuk wacana), masa' lulusan s2, bahkan s3 bisa nggak tahu dngn apa yang diperbuat.
segitu dulu,..
he
yoi
aku setuju denganmu Lisistratasaja. aku menyadari bahwa dosen itu juga manusia biasa yang kadang takut untuk berjalan diluar arus besar. memang lebih enak, jika harus berjalan hanya mengikuti arus saja dan sepertinya itu yang mereka pilih. tapi tentu saja aku tidak setuju jika, anda mendasarkan pengetahuan seseorang dari jenjang pendidikan formal. bisa saja lulusan s2, s3 atau pun scampur itu lebih kritis ataupun lebih pintar dari yang jenjang dibawahnya. mungkin memang mereka memiliki referensi wacana yang lebih banyak dari yang lain tapi lebih banyak referensi wacana tidak berarti lebih pandai atau kritis, itu semua tergantung dari kita nya dalam menyikapi sebuah wacana. yah buktinya ada anak sma yang sudah menyadari bahwa sekolah bukan sebuah alat untuk mencari kerja tapi mahasiswa s1 kebanyakan kuliah hanya untuk mencari kerja.
mereka ndak menjadikan wacana sebagai nafas hidup
aku pikir jenjang memang ndak selalu berpengaruh, tapi itu memberi banyak kotribusi pada wacana..memang orang s2 linguistik kecil kemungkinan tahu.
coba lihat ada saja dosen sastra yang belajar sastra, relasi kuasa, tapi tetap inferior dan "terjajah" dalam praxsis....
mereka seperti mayat hidup
kita hajar aja mereka ,.ha..ha..
hajar aja
sepertinya mas ian ini anarkis sekali aja, mayat hidup aja mau dihajar
apakah cara untuk menghajar mayat hidup itu?
idealisme luntur karena Usia
terkadang dalam mengerjakan sesuatu kita akan tetap berpegang teguh pada idealisme kita masing2 seperti yang dikatakan temen saya Pukon
dia adalah seorang pemikir yang amat sangat pandai dalam membaca situasi dan kondisi sekitar...bahkan untuk menilai seseorang dia amat jeli...
eh iya kembali kemasalah idealisme luntur karena usia memang itulah yang sedang kami rasakan para oldcrack..idealisme yang sejak dulu kami pegang teguh...sampai sekarang ini berangsur2 luntur...melunak dikarenakan usia kami yang tergolong sudah lanjut untuk mahasiswa S 1...
tetap semangat dan pertahankan idealisme mu semoga tercapai segala cita2mu
Quote: terkadang dalam
terkadang dalam mengerjakan sesuatu kita akan tetap berpegang teguh pada idealisme kita masing2 seperti yang dikatakan temen saya Pukon
dia adalah seorang pemikir yang amat sangat pandai dalam membaca situasi dan kondisi sekitar...bahkan untuk menilai seseorang dia amat jeli...
eh iya kembali kemasalah idealisme luntur karena usia memang itulah yang sedang kami rasakan para oldcrack..idealisme yang sejak dulu kami pegang teguh...sampai sekarang ini berangsur2 luntur...melunak dikarenakan usia kami yang tergolong sudah lanjut untuk mahasiswa S 1...
tetap semangat dan pertahankan idealisme mu semoga tercapai segala cita2mu
yuk... aku juga setuju dengan mu, kadang ada banyak hal yang membuat kita mempertaruhkan banyal hal untuk mempertahankan idealisme. bukan hanya usia saja sih menurutku, tapi sepertinya dunia dan hidup dengan segala isinya juga menyulitkan dan melelahkan untuk berdiri diatas idealisme... kadang manusia dipaksa untuk menjadi mahluk praktis tanpa idelogi
idealisme dan timbal balik
kawan ian,
kok sepertinya anda jengkel sekali dengan para dosen kenapa sih?
karena menurut saya para dosen tersebut sehat2 saja
maaf itu sedikit ungkapan hati saja....
kawan semua,
saya pikir juga apa yang terjadi pada mahasiswa dalam hubungannya dengan tugas akhir untuk menuntaskan gelar kesarjanaannya adalah suatu fenomena yang sangat sering terjadi ketika para pendahulu kita menyuruh untuk menggarap suatu karya yang tidak terlalu idealis atau sederhana saja.
disini yang saya bisa pelajari adalah bahwa sudah ada pengalaman sebelumnya bahwa idealisme yang dituangkan dalam suatu karta tersebut tidak mendapat timbal balik semestinya. ketika idealisme dalam suatu karya tidak mendapat timbal balik dari masyarakat maupun sang empunya. maka dari situ pendahulu kita menyarankan agar kita tidak usah terlalu idealis dala mengerjakan skripsi, toh juga setelah itu tidak akan terpakai begitu seringnya mereka menambahi saran mereka....dengan embel2 yang sangat tidak mendukung hangatnya ber'skripsi'.....
nha yang saya lihat disini adalah sebuah tawaran yang sangat terbuka untuk ditolak atau diterima.
jadi sebaiknya kita sebagai pelaku akan hidup, kita yang menentukan melaui jalan mana kita akan melangkah...bukan begitu?
salam skripsi, hehehe
di situ
di situlah terletak perlunya apresiasi karya. menurut saya, kebanyakan mahasiswa menjadikan skripsi kakak-angkatannya hanya sebagai contekan teori dan, sering juga, bahkan contekan analisis. ketika karya yang ditulis dengan idealisme hangat tidak diapresiasi, maka karya itu akan dingin-dingin saja di rak buku perpustakaan, atau di map data kmputer. lalu, pertanyaannya: mengapa karya jarang sekali diapresiasi? tentunya ada segi intertekstualitas dengan "untuk apa menulis skripsi?" ketika menulis skripsi hanya sebagai legalitas kelulusan saja, maka orang akan "mengapresiasi" skripsi lainnya hanya sebagai review of related studies (baca: contekan) pula. memang susah untuk mendobrak siklus ini. sudah terlalu lama ia menghegemoni. mari didik diri kita sendiri, lalu ajaklah orang lain untuk mendidik diri mereka. temani orang lain itu berdiskusi berwacana. misi ini berat, tapi bisa dilakukan. janganlah dulu berpretensi dengan harapan terlalu hebat. mulai dari lingkaran kecil.
yang penting adalah tak lelah-lelah menjaga kehangatan semangat arus-bawah. karena permukaan telah begitu keenakan dibelai angin yang meninabobokkan.
salam,
ginting
Post new comment