ayah

sewaktu sd dulu saya seringkali sebal ketika dinasehati oleh ayah saya. mungkin saya menganggap nasihat dari ayah saya itu adalah omelan-omelan kecil yang tidak penting. atau mungkin saya menganggap dulu ayah saya terlalu jahat karena tidak membolehkan saya melakukan ini dan itu. ah, mungkin karena dulu saya masih kecil, setelah dewasa nanti saya pasti menyadari kalau ayah saya itu bermaksud baik dan nasehatnya akan saya terima dengan lapang dada. karena setelah saya dewasa pasti ayah saya akan lebih mempercayai saya dan menggantikankan istilah nasihat dengan "obrolan" atau "diskusi" sehingga terjadi hubungan dua pihak yang sangat asik sekali.
ternyata setelah saya berumur 24tahun dan kuliah di smester akhir saya menemukan bahwa nasehat itu tetaplah menjadi nasehat dan tidak berubah menjadi obrolan. ayah saya selalu berkata "tidak seperti itu" atau "kamu salah kalau mikir kaya gitu" atau "ga boleh kaya gitu" setiap kali saya mencoba berargumen. pernah saya mencoba mempertahankan argumentasi saya - yang disini bisa dikatakan "melawan" - dan akhirnya ayah saya sakit. bengek. batuk. meriang. penyakitnya ga jelas gitu. waktu itu malah semapat mondok di panti rapih. atau lebih parah lagi waktu dia memarahi kakak lelaki saya, dia dirawat di rumah sakit Tebet jakarta. akhirnya saya menjadi takut untuk menghadapi ayah saya, dan jadi lebih sering menghindarinya.
dan setelah dipikir lebih jauh lagi saya mulai sedikit mengerti apa yang membuat saya sebal dengan nasehat atau omelannya, saya tidak kuat menerima kenyataan bahwa diantara omelan dan nasehatnya - dia benar.
ayah masih tidak bisa dibantah.
dan aku masih takut padanya.

Post new comment