Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

 

D'massive

durgadurga's picture

seorang teman menanyakan "lagu apa yang paling galau tahun ini?". dia sebenarnya bukan bermaksud bertanya, tapi cuma ngasih tebakan ajah. jelas bingung, saya lagsung mencari referensi band metal yang kira-kira sempat ngetop, ato paling gak band emo yang sempat mengisi kegalauan hati ini (ciieeeehhhhh). soalnya yang nanya juga penikmat musik cadas. nah, setelah saya menyebutkan jawaban yang tidak tepat, akhirnya dia juga menjawab. ternyata jawabannya adalah lagu "cinta ini membunuhku" dari band D'massive. nah lohhh...

emang galau yak? saya bukan pendengar band indonesia baru seperti d'massive, vagetoz, ungu, repvblik, dan kawankawannya. tapi karena kegalauan tadi membuat saya penasaran akhirnya saya mencari lagu itu diwarnet-warnet terdekat. hari pertama pencarian saya tidak menghasilkan apa-apa, salah warnet mungkin. akhirnya sewaktu sedang ngobrol dengan teman dia bercerita ada warnet baru dan murah serta cepat, saya langsung tanya lagi "ada lagu d'massive gak?" haaaaaa..dia bilang ada, langsung aja saya cabut kewarnet yang dimaksud.

diwarnet ituh tanpa membuka firefox ato internetexplorer dulu, langsung aja saya cari di my documents bilik 14 tempat saya bernanung. setelah beberapa menit saya mencari ternyata gada juga. haduh...percuma dong. bermodalkan tekad, semangat, dan flashdisk, saya langsung ajah menuju operator, "mbak, minta lagu D'massive, dunks..." mbak operator yang mungkin juga sedikit kaget karena ketidakkontrasan jeans robek kirikanan yang saya kenakan dengan permintaan saya cuma bisa melongo ajah. "anu...save di flashdisk saya ajah langsung" tambah saya sembari menyodorkan flashdisk. harap-harap cemas gituh, mbaknya masih ajah sibuk nyariin lagu di komputernya sambil mangap-mangap kayak ikan. "waduh mas, flashdisknya penuh diapus dulu ajah." akhirnya saya menghapus satu lagu yang baru aja saya download dari myspace.com. haaaaa....d'oh!

akhirnya selesai juga langsung ajah saya nyetel winamp dan mendengarkan lagu yang baru saya minta tadi dengan perasaan penuh galau karena harus menghapus lagu dulu. "kau hancurkan aku dengan sikapmu. tak sadarkah kau telah menyakitiku. lelah hati ini meyakinkanmu, cinta ini membunuhku...uwoooooo"
mendengarkan dengan sekasama dan menikmati dengan galau berulang-ulang, karena di playlistnya emang cuma ada lagu itu aja. akhirnya saya menemukan kegalauan seorang lelaki yang ditolak cintanya dari lagu itu. hakhakhak....
setelah saya dengarkan hampir 15 kali, saya akhirnya terbawa dengan lagu itu. kedua mata saya mulai mbrambangi, mengingat apa yang saya alami beberapa bulan terakhir, apa yang saya korbankan, dan apa yang saya rindukan. ingin menangis rasanya. "lelah hati ini meyakinkanmu..." D'massive...hatiku kau buat remuk dan hancur.

aku galau...

sedik's picture

ha ha ha

melting juga bang dengerin tu lagu?!?!sejarah tu lagu miris banget lho bang,itu tuch pengalaman pribadi vocalisnya yg ditolak 7 kali ama cewek yg sama (barusan di 4 mata)...yach,slamat bergalau-galau bang...

durgadurga's picture

cuciotak

pastinya galau kalo di playlist winamp cuma ada satu lagu itu doang dan didengarkan sembari ngenet sampai satu setengah jam...haaa...dijamin mabok dan galau, entah itu galau karena bosen pengen matiin tuh lagu atau galau karena dengan rupa kita yang tidak manis ini memiliki hati yang melankolis juga...haaaaaa..cuci otakkkk!!!!
iya, waktu itu pernah liat di tipi juga, behind the song, hahahha...

salam,
amarah durga

sescoplo's picture

berkubang

daripada berkubang (minjam istilah temen) dalam kesedihan, bukannya lebih baik melupakan yang udah terjadi dan menatap esok hari dengan full semangat. berkubang dlm kesedihan kayak gitu ga akan membuat dompet anda lebih tuebel.. yg ada malah membuang2 waktu dan menjadikan sodara tidak mood utk melakukan hal lain dor

the lalala of the wind

mbik's picture

D'massive

make me feel alright

durgadurga's picture

kubangan

iya, berkubang dalam kesedihan ternyata memang berbahayahahaha...sepertinya saya memang telah terhipnotis dalam kesedihan yang entah darimana datangnya. eh, bukan entah darimana datangnya, ding..kesedihan itu datang dari lagu d'massive yang saya dengarkan non stop ituh, hehehe...kacau!kalau membicarakan dompet tambah tebel...hehehe..saya kok ga dong yang dimaksudkan kawan sescoplo. memangnya kalau saya tidak berkubang dalam kesedihan dompet saya tambah tebel? kayana ga juga deh. nah loh...ah, saya belum siap mempertebal dompet saya.

salam,
amarah durga

amoyAtika's picture

d massive????? gak jadi nge fans de akuuu

gw sempat nge fans berat ama d massive...
tapi sempet kecewa juga sih....karna

Awalnya aku nemuin kesamaan Warna (irama) DRUM dan aransemen lagu d'Massive dgn beberapa lagu dari SWITCFOOT

ni salah satu contohnya :
Bandingkan aransemen lagu, ketukan, warna irama drumnya :
d' MASSIVE yg "DIAM TANPA KATA" dengan
SWITCHFOOT yg "AWAKENING"

suamaaaaa persis....ketukan, aransemen, warna musik, warna irama drum....

klo lo emang musisi, pasti lo nyadarin....
bukan cuma itu, masih banyak lagu2 D' Massive yg mirip dgn SWITCHFOOT dan Band2 luar laennya... misalnya :
SwitchFoot yg "In This Life" dengan D' Massive yg Dan Kamu

ada juga yg sama di bagian intronya doank (aku lupa yg mana dan sama dengan ap)
klo emang professional dan kreatif....knapa musti sama?
kecewa berat deeee........hiks........
kreatif dikit knapa????????

wahmuji's picture

D'Massive dan Lagu-lagu populer

Teman saya pernah cerita. suatu pagi, ia sarapan di burjo dekat kosnya. saat sedang menyantap makan paginya, ia mendengar lagu yang dimainkan oleh d'Massive. teman saya "galau", sedih seketika, dan merasa seakan tidak kuat lagi mendengarkan lagu itu. anehnya juga, katanya, beberapa orang yang mendengar lagu bercerita tentang kesedihan itu dengan mimik yang jauh dari rasa sedih ikut bernyanyi.aneh, kata temanku.

Kemudian obrolan kami berlanjut ke pembentukan suasana yang dicipta oleh lagu-lagu d'Massive dan band serupa yang banyak menarasikan kesedihan, termasuk Ungu. saya sendiri sebenarnya jarang mendengarkan lagu-lagu itu secara intensif untuk kemudian menelaah. kalaupun mendengar, biasanya dari beberapa teman yang latah menyanyikan lagu yang sama atau dari lagu yang diputar di burjo. baru kemudian saya tahu lagu dan band yang dimaksud.

Band dengan musik populer bersifat massif dalam artian produksinya yang membludag dan pendengarnya yang buanyak. dari beberapa lagu yang, kebetulan, sering saya dengar di burjo atau lewat teman, saya membaca narasi kesedihan yang jadi dominasi. saya belum bisa memberikan detail lagu dan liriknya saat ini. dan saya sendiri merasa kurang tertarik melakukannya karena kesan pertama mendengar & 'mendadak' menelaah sudah sangat jelek. karena saya kurang paham tentang aliran-aliran musik, saya cenderung mendengarkan teks/lirik lagunya. liriknya sangat jarang yang bagus. kebanyakan berisi keputus-asaan yang didramatisir menjadi sesuatu yang 'menyentuh'. dan itulah mungkin yang dicari. kata 'menyentuh' kemudian hanya diasosiasikan pada hal-hal yang sedih, putus asa. dan topik besarnya tetap sama; "cinta" antara laki-laki dan perempuan. saya memberi tanda kutip pada kata "cinta" karena saya memiliki konsep dan pengertian yang sangat jauh berbeda tentang kata itu. dan saya menganggap sebagian besar dari lirik "mereka" yang mengusung topik "cinta" tidaklah memberikan semacam pemahaman yang dalam. saya menyebutnya dangkal. narasi kesedihan yang dihadirkan dalam lirik-lirik itu biasanya mendapat penyesuaian dari aransemen musiknya. dan musiknya juga tidak banyak yang bagus. sekali lagi, kesimpulan "buru-buru" ini tanpa saya landasi dengan pamahaman yang memadai tentang musik. namun, saya merasa, musik yang dihadirkan "mereka" jauh, jauh lebih jelek dari teman samping kamar saya yang sering main gitar dan bersuara seperti Rhoma Irama, dari teman-teman saya yang sering "ndangdutan", dari teman-teman saya yang sering nge-jazz-in lagu-lagu Indonesia, dari musik keroncong yang dan langgam Jawa yang keluar dari speaker di samping monitor saya, dari musik Buena Vista Social Club asal Kuba yang sering saya putar film dokumenternya (hanya untuk menyebut beberapa).

Kembali ke obrolan saya dengan teman tadi. ia menelaah lagu itu dan lagu-lagu serupa. dengan landasan bahwa semua yang datang akan membentuk kita, sadar maupun tidak sadar akan mengendap di ruang pikir dan pola kita, ia berkesimpulan bahwa kondisi merebaknya lagu-lagu itu mengenaskan. orang disuguhi secara terus-menerus narasi kesedihan dan orang akan hidup dengannya, berdampingan, dan mungkin juga akan memuja pencipta narasi kesedihan itu.ini akan, lanjutnya, mencipta semacam atmosfer kesedihan di orang-orang muda. bukan atmosfer penuh semangat untuk berpikir dan berkarya.hmm...

Kemudian obrolan berlanjut ke hal yang lain; Sinetron. mungkin kami bertiga (teman saya satu lagi ikut ngobrol) tidak mengikuti secara rutin sinetron-sinetron yang beredar di TV. namun, dari yang kami tangkap ( ini sebenarnya memerlukan obrolan dan catatan yang lebih panjang lagi), kebanyakan sinetron menghadirkan narasi yang sama jeleknya dengan lagu-lagu populer. isinya justru malah lebih parah. oposisi biner yang mutlak seperti kaya dan miskin, jahat dan baik, pembantu dan majikan, "cinta" gak "cinta" akan sangat dengan mudah kita temui. belum lagi ngomongin "acting"-nya yang kacau, logika cerita yang sering lompat dan ngawur, dan eksploitasi perempuan-muda-cantik di sana yang sudah menghegemoni.bahkan, cara kita berpacaran atau berhubungan dengan orang lain sangat mungkin dilandasi pola-pola sinetron itu. teman saya memberikan contoh pola berpacaran beberapa temannya. mereka adalah orang Jawa. komunikasi/ sambung wicara biasanya dilakukan dengan bahasa Jawa. namun, ketika berpacaran, mereka menggunakan bahasa Indonesia.hmm..

Saya pernah membaca sebuah esai di kumpulan "Post-Colonial Studies Reader" (maaf, saya lupa nama pengarangnya). di sana diungkapkan bahwa di negara "dunia ketiga" terdapat simbiosis mutualisme yang rumit untuk membatasi beredarnya buku ilmu pengetahuan. buku yang paling laris dan dibuat laris adalah buku tentang agama dan fiksi populer. teman saya yang bekerja di sebuah penerbitan buku membenarkan pernyataan itu. "buku agama tak akan kehabisan konsumen", lanjutnya. untuk sementara, karena belum melakukan penelitian yang mendetail, saya merasa pembatasan ilmu pengetahuan juga dilakukan di musik dan sinetron. ironisnya,semua media itu membanjiri kita setiap hari. tanpa jeda. tanpa waktu menelaah lebih dalam. tanpa waktu berpikir hal-hal yang lebih nyata dan mendesak..menjadi semacam pelarian semu, sebuah penjualan obral utopia..ah, kata-kata saya mungkin akan terdengar klise. tapi saya juga merasa bingung karena jika saya menghadirkan pembicaraan yang cenderung ke penelitian detail akan tak banyak diakses orang yang sudah apatis dengan sudut pandang yang "lain", yang sering menganggapnya berat. aneh...

D'Massive, nama yang sok Inggris ini, yang mungkin pencipta namanya tidak tahu perbedaan kata benda dan kata sifat dan penggunaannya apalagi untuk mendekonstruksinya, menurut penilaian teman saya, menjadi "band tergalau tahun 2008".WelehWeleh...

durgadurga's picture

amoyAtika dan D'massive

sebenarnya saya tidak terlalu tertarik dengan D'Massive, jadi saya tidak mendengarkan semua lagunya. dan sialnya lagi saya juga tidak mendengarkan Switchfoot dengan intens, jadi saya tidak begitu paham dengan persamaan beat dan irama dan lain sebagainya itu dari kedua band tersebut. mungkin gak sih kalau ternyata Switchfoot mengambil materi lagunya D'massive? hehehehe...kayanya ngga ya...tapi karena anda sudah menjelaskan perbedaan itu saya jadi ingin mendengarkannya, emang bener ya...?

salam,
amarah durga

durgadurga's picture

wahmuji dan D'massive

iya sih, setelah saya membaca tulisan wahmuji, saya banyak mengangguk-angguk tanda setuju dan cengar-cengir tanda setuju serta berdehem-dehem tanda 'gumun'. lagu-lagu yang menyentuh memang cenderung dengan kesedihan yang didramatisir, karena emang sedih itu kaya'nya paling gampang ditulis. ketika itu gampang, maka akan banyak orang yang paham dan mengangguk-angguk, makanya jadi lagu populer. nah, apalagi kalo sedihnya ngomongin cinta, waduh...gampang banget.. saya mengalaminya sendiri. saya akan lebih mudah bercerita dengan seseorang perihal kehidupan percintaan saya daripada perihal nasib indonesia, atau perihal sastra atau perihal sistem kerja ekonomi bangsa...waduh. ternyata saya orangnya sangat pop juga ya...

kalo untuk sinetron...ya saya pikir memang sesuai sekali jika dijadikan panutan. semuanya serba bening, bahkan seorang pengemis aja keliatannya cantik banget, bersih gitu, haduhaduhaduh...keluarga miskin yang hampir bangkrut dan dikejar-kejar penagih hutang pun rumahnya bersih mewah dengan satu pembantu...apa-apaan nih...!!! karena banyak yang bening dan manis di sinetron, makanya banyak yang pengen jadi seperti yang tergambar di sinetron, panutan! tapi emang sih, industri sinetron kita kan gede banget tuh, gede urat malunya sampe njiplak dari sinetron korea tanpa ada perasaan bersalah gitu. bayaran untuk aktor-aktrisnya tidaklah sedikit per episodenya, sehingga banyak sekali yang berlomba-lomba mencari uang sebagai aktor-aktris, makanya aktingnya pas-pasan gituh. dengan aktig pas-pasan ajah udah laku, ngapain harus susah-susah nyari aktor berbakat???

tapi...aku ingin jadi pemain sinetron...

salam,
amarah durga

ginting's picture

D'Massive dan Efek Masif-nya

kau hancurkan aku dengan cintamu
tak sadarkah kau telah menyakitiku
lelah hati ini menantikanmu
cinta ini membunuhku

begitulah sepenggal lirik lagu band yang dijuluki oleh temannya Wahmuji sebagai "Band Tergalau Tahun 2008". cinta yang menghancurkan, cinta yang membunuh, waduh! dayuan alur naik-turun, naik-gak-turun-turun, atau turun-gak-naik-naik dari musik ini memang gampang sekali membuai nalar pendengarnya. Tidak salah kalau musik ini masuk kategori musik gampang-dengar karena kordnya gampang, melodinya gampang, ketukannya gampang, penyanyinya juga gampang(an). Pendengarnya?

kalau mau berbicara dengan kritis perihal pengaruh lagu-lagu demikian pada peta mental pendengarnya, kita seyogyanya menyingkirkan segala cengkraman sikap suka-tidaksuka. Saya yakin banyak sekali orang yang suka mendengarkan lagu-lagu yang diusung band atau penyanyi semacam D'Massive, Ungu, Afghan, KangenBand, dan sebagainya dan seterusnya. lihat saja seperti apa warna dan isi lirik dari lagu-lagu mereka. hampir semuanya tentang "cinta", "legalisasi selingkuh", "sakit hati", "sembah sujud pada Sang Hyang Cintha". seperti inilah. dan khalayak begitu dibombardir oleh kehadiran lagu-lagu tersebut. mirip seperti propaganda Pidato Roosevelt tentang akan terjunnya AS ke Perang Pasifik pasca pemboman Pearl Harbor. hampir setiap jam publik amerika disapa dan dibayangi suara rekaman pidato tersebut melalui radio yang ada di kamar, di dapur, atau di ruang tamu mereka. seperti itulah lagu-lagu yang diusung band semacam D'Massive dicekokkan ke pikiran kita. lewat televisi, radio, mulut-ke-mulut, gitar-ke-gitar, pengamen-ke-pengamen, di burjo, di kamar mandi, di bus kota, di warnet, di kota dan di desa, di mana saja.

Para produser akan berani membanting dana tinggi untuk promosi. mereka yakin propaganda lewat media massa sangat besar pengaruhnya pada angka penjualan, yang juga akan menyusul pada tingginya angka pesanan-manggung pada band tersebut, tingginya angka tawaran membintangi iklan, film, dll. propaganda macam ini sudah klasik, namun kapasitas keberhasilannya seakan-akan tidak keropos dimakan rayap waktu. hampir semua propaganda macam ini, baik yang politik, urusan bisnis, urusan minta restu buat perang, sampai urusan seni (sastra), berhasil dengan baik karena dilakukan dengan sistematis, siluman, dan penuh senyum yang memperlihatkan gigi-gigi putih berbaris rapi. inilah kekuatan Humas sejati!!!

mungkin banyak orang mengira anggapan bahwa lagu-lagu populer, yang cengeng yang membuai yang menjual utopia (meminjam istilahnya Wahmuji), dapat secara sadar atau tak sadar membentuk peta mental sebuah generasi sebagai suatu pemikiran yang terlalu paranoid atau mengada-ada. banyak orang merasa mereka masih memiliki sebuah lahan yang sangat pribadi, yang hanya dikuasai oleh mereka sendiri, dan tidak akan terpengaruh oleh hal-hal (populer) yang banyak beredar di sekitar lingkungan tempat ia hidup. mungkin Anda akan berkata, "saya suka lagu cengeng, bukan berarti saya cengeng."

katakanlah demikian benar adanya, dan jangan takut, Anda tidak sendirian. ada bejibun orang lain yang merasa sama seperti Anda. tapi mari kita coba lebih arif memandang masalah ini. ketahuilah, saat seseorang benar-benar merasa dia punya lahan pribadi itu, lahan yang tidak tersentuh oleh pengaruh "dunia", dan saat dia merasa mempunyai kuasa atas dirinya sendiri, dan dia akhirnya memutuskan untuk ikut berenang di arusutama, saat itulah puncak keberhasilan propaganda lewat Humas dan mediamassa diraih. orang memang dibuat seakan-akan dia tidak dipaksa untuk memilih apa yang akan dia anut, dia suka, dia pakai, dia terapkan. orang dibuat kosong. dan cuciotak macam ini dilakukan hampir setiap menit lewat kotak televisi di ruang tengah rumah Anda, radio yang suaranya Anda dengar lewat headset saat bersepeda atau bersantai, tulisan-tulisan di majalah atau surat kabar ternama, lewat gambar-gambar raksasa yang tertempel di baliho (yang selalu memakai bahasa sok nginggris padahal bahasa indonesianya sendiri saja belum fasih) yang lebih lebat dari pohon di sepanjang jalan yang sejuknya kini tinggal kenangan belaka. Saat itulah, Anda telah berbagi kue propaganda. dan saat itulah mental Anda dibentuk.

Mungkin kebanyakan orang akan mengira keputusan Soekarno untuk membredel masuknya musik "ngak-ngik-ngok" barat ke Indonesia sebagai sebuah keputusan yang memberangus kebebasan berekspresi orang. pada satu sisi memang benar. dan orang yang membangkang akhirnya masuk bui, lihat saja nasib KoesPloes. tapi saya melihatnya seperti ini. pada saat itu, Indonesia yang usianya masih sangat muda ini, sedang mengalami masa peralihan. dan ini sangat berpengaruh pada mental setiap warganegara. masa transisi adalah masa yang genting. ia krusial. dan pengendalian ketat lewat insting yang awas memang dibutuhkan oleh seorang kepala negara. saya melihat sikap Bung Karno yang melarang masuknya musik (budaya pop) barat ke Indonesia sebagai sebuah tindakan pencegahan. sebuah bangsa yang baru merdeka harus disiapkan dengan matang sebelum bisa bersentuhan dengan bebas dengan dunia manca. tiga setengah abad menganut mental budak bukanlah sesuatu yang tidak patut mendapatkan pertimbangan. dan budaya asing yang masuk tanpa penyaringan (baca: pemblokiran awal) akan mengabadikan mental terjajah kita itu. kalau tidak, buat apa Bung Karno lantang sekali berteriak mengusir IMF ke neraka dan menasionalisasi lahan industri milik Belanda di Indonesia? itu semua memang dilakukan sebagai tahap awal melangkah bagi bangsa yang baru merdeka. mental bangsa yang menjadi taruhannya. bukan mau menjadi egois, tapi sangat lumrah ketika pada masa awal kemerdekaan, seorang pemimpin negara mengajak rakyatnya dengan sabar menyelesaikan tatanan dan konsep kenegaraan dan kebangsaannya sendiri terlebih dahulu, dan coba menjajal kemampuan bertahan hidup bangsa setelah lepas dari cengkraman penjajahan.

kalau tak percaya dengan uraian saya, mari kita telaah kejadian pasca rezim Soekarno. Semua yang manca dibukakan pintu selebar-lebarnya untuk masuk ke Indonesia. KoesPloes-pun berdendang lagi. dan lagu yang sangat terkenal dari mereka adalah "bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup tuk menghidupimu, tiada topan tiada badai kau temui, ikan dan hutan menghampiri dirimu," dan yang paling parah, "orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman."

Maka lihatlah seperti apa mental orang Indonesia setelah menggemari lagu itu... (saya kira Anda bisa mencaritahu sendiri).

sekarang mari kita bertanya-tanya: apa sih lagu bernuansa kebangsaan yang terbaru pasca lagu "Bendera" yang dilantunkan Cokelat? jujur saja, saya sudah "bosan" dengan lagu Maju Tak Gentar, Rayuan Pulau Kelapa, atau Perahu Retak. Namun kebosanan saya malah dibayar dengan lagu "Kekasih Gelap", "TemanTapiMesra", atau, gilanya, "Selingkuh itu Indah".

beberapa bulan lalu (mungkin tahun lalu), seorang Franky Sahilatua ingin meliris album terbarunya yang bernuansa Pancasila. ketika menawarkan musiknya ke produser, dia malah disuruh mengganti lirik lagu-lagunya menjadi lirik "cinta" karena, menurut produser itu, lagu tentan Pancasila tak akan laku. cinta yang macam apa? mungkin cinta menurut D'Massive kali, yak? dan Franky menolak melakukannya, setelah menelan ludah getir kecewa. dia merekam lagunya sendiri. melirisnya sendiri dengan membagi-bagikan kuranglebih seratus CD gratis kepada orang-orang. kisah ini diliput oleh KR. saya membacanya di surat kabar itu.

silahkan lihat kejadian itu. sekarang saya jadi agak bingung, sebenarnya produser yang menciptakan selera pasar (dengan sengaja), atau memang mereka hanya menggarap lagu-lagu yang "sesuai" dengan selera pasar? tapi, belakangan saya mulai berani berkesimpulan, bahwa, melihat bombardir propaganda dengan kuda tunggangan berupa m"TV"edia, saya rasa telinga pendengarlah yang dengan sengaja dibentuk sesuka hati para pelaku industri musik. saya tidak memukulrata, karena nyatanya banyak juga pelaku musik yang melakukan perlawanan lewat musik-musik diluar musik arusutama semacam D'Massive itu.

kumencintaimu lebih dari apapun
meskipun tiada satu orangpun yang tahu
kumencintaimu sedalam-dalam hatiku
meskipun engkau hanya kekasih gelapku

lirik semacam inilah yang banyak kita dengar sekarang. lirik bangsat semacam inilah yang membentuk orang-orang muda sekarang. terseretlah, terseretlah, dan songsong hari-hari depanmu yang telah disediakan oleh kaum kapitalisme pasar. jilat kaki mereka dan kau akan bertahan.

D'Massive, kau buat anak muda negeriku galau segalau-galaunya.

salam,
ginting

durgadurga's picture

d'massive dan ginting

ternyata saya menjadi sadar setelah membaca tulisan dari kawan ginting. iya-ya, kasihan sekali Franky Sahilatua, sudah ingin memajukan indonesia dengan lagu nasionalnya, malah ditolak oleh produser rekaman, katanya karena bakal kaga laku. tapi saya pikir saya juga mungkin tidak akan membeli atau mendengarkan lagu Franky tadi jika universitas tempat saya kuliah tidak menjadikannya lagu wajib.

hah...saya juga teringat ketika saya menonton televisi dan rcti menyiarkan program idola cilik...saya ga tau persis nama acaranya apah, tapi acaranya seperti ini. kontes menyanyi buat anak-anak cilik , mungkin usia paling besar adalah kelas 6 SD ya...dan ternyata lagu yang dinyanyikan itu bukan lagu anak-anak, tapi lagu band seperti yang kita bicarakan sebelumnya itu. jadi saya sempat gundah lagi ketika melihat anak berusia 9 tahun dengan pakaian warna-warni lucunya dan memegang mikropon yang ditangannya jadi terlihat besar sekali dan berdendang, "pilihlah aku jadi pacarmu..." atau "kau hancurkan aku dengan cintamu..." waduh...ini gawat...
kasihan sekali, sepertinya indonesia kekurangan lagu anak-anak.

ya, ternyata efek lagu sejenis lagu d'massive itu sampai sebesar itu. waduh...

salam,
amarah durga

sescoplo's picture

oiuh

itu karena anak2 sekarang tidak punya idola yg umurnya sebaya dengan mereka..kalopun ada cuma Gita Gutawa yg lagu2nya lebih cocok dengan telinga orang dewasa daripada telinga anak kecil.
beda dengan kita dimana kita dulu sering liat Trio Kwek-Kwek atau Joshua atau Agnes Monica di tipi...

durgadurga's picture

dulu

waktu kecil dulu saya masih sempet mendengarkan lagu abang tukang bakso, tapi sekarang penyanyinya udah besar dan masih menyanyi lagi, tapi lagunya jugak lgu-lagu cinta gituh...ya bagemana yak...sherina pun tidak bisa melekat terlalu lama di anak-anak sekarang. mungkin sherina dulu juga seperti bernyanyi lagu anak-anak untuk konsumsi orang dewasa. pasar ntuk lagu anak-anak mungkin juga sedikit, makanya produser lagu kaga mau nerbitin lagu anak-anak...kaga laku...

salam,
amarah durga

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <img> <br> <br /> <p> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Textual smileys will be replaced with graphical ones.
  • You may quote other posts using [quote] tags.
  • Lines and paragraphs break automatically.

More information about formatting options

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
Image CAPTCHA
Copy the characters (respecting upper/lower case) from the image.
 

Highest Points

UserPoints
durgadurga1093
molen559
wahmuji421
mbik410
sedik317
ginting307
dalangpotehi282
sescoplo265
titiknol177
otakudang161