Tentang Ke-aku-an-ku..
apa yg ditawarkan dari SASTRA?
Oleh kawan dEnty_curLy, Senin 13-10-08 21:38
Pertanyaanku sederhana, apa yg ditawarkan dari SASTRA? Uh, aku bingung kenapa hari ini aku berangkat ke kampus untuk belajar struktur kalimat, menerima tugas book report, lalu sampe rumah menjumpai pernyataan, kamu kuliah sastra tapi jangan terlalu nyastra ya.. ga usah terpengaruh ikut jadi sastrawan!! buset!! 


alow Denty yang semakin curly...
pertama-tama, aku nggak akan menjawab pertanyaanmu dengan nalar-bicara yang berpunya nada sama dengan JFK. aku gak akan bilang: "jangan tanya apa yang ditawarkan sastra padamu, tapi tanyakan apa yang kau tawarkan pada sastra." uuuhhh.... berat banget kalok gitu.
namun, aku cuma mau bilang, kalau orang yang mengatakan padamu "ga usah terpengaruh ikut jadi sastrawan," adalah orang yang benar-benar kosong pengetahuannya tentang buat apa kuliah di sastra.
sastra sebagai ilmu akademik tidak dirancang untuk mencetak pembelajar di dalamnya untuk menjadi sastrawan. kalau "mau" jadi sastrawan, nggak perlu kuliah di universitas. ikut aja ama rombongannya Umbu Landung Paranggi, ntar bisa jadi penyair deh.
lalu kalau ada mahasiswa sastra jadi sastrawan? ya, emang kenapa? toh ada juga mahasiswa arsitektur yang jadi penyair, dan banyak contoh kasus yang sama. kalau mahasiswa sastra jadi sastrawan, itu berarti dia masuk pada ruang yang berbeda dari apa yang ditawarkan fakultasnya. namun, memang tidak bisa disangkal kalau suasana pikir yang di dapatnya di tempat belajar juga dapat mempengaruhi arah pilihan hidupnya. tokh, mahasiswa itu banyak berkenalan dengan karya dan kritik sastra di ruang kuliahnya.
nah, aku sekarang jadi bingung nih. hehehe... yang denty maksud dengan "sastra" di sini itu "Fakultas Sastra" atau "Sastra"? pertanyaan denty juga agak, sori, ngawur. "apa yang ditawarkan dari SASTRA?" aku bingung mencari logika yang menghubungkan kata "ditawarkan", "dari", dan "SASTRA". kalau "ditawarkan oleh SASTRA", itu sih masih gampang mengertinya.
jadi, kembali ke apa yang ditawarkan sastra, aku mencoba memahami "sastra" disini sebagai "fakultas sastra", kalau kuliah sastra lantas tidak jadi sastrawan, menurutku, adalah suatu hal yang wajar. dan kalau kuliah sastra trus jadi kritikus sastra, itu adalah hal yang luar biasa, khususnya di Indonesia. karena apa? karena kita sekarang sedang kekurangan pengkritik sastra.
dan, menurutku "kuliah struktur kalimat dan tugas book report" sama sekali tidak berbanding langsung dengan konteks "kamu kuliah sastra jangan terlalu nyastra ya..." jadi jangan terlalu "busyet!!" yak, denty. hehehe....
ingat denty, ilmu sastra itu ilmu humaniora, bukan ilmu profesi. jadi yang diharapkan terjadi pada para pembelajarnya adalah bahwa kaidah-kaidah ilmu tersebut, dengan segala ragam-wacananya, dapat berimbas langsung pada kualitas jiwa dan nalar para pembelajar tersebut. jadi harapannya memang bukan jadi manajer, apalagi presiden! (em..kalau manajer mediasastra kayaknya masih boleh deh.
)
hanya saja, berhubung mahasiswa sastra dididik pola pikirnya agar dapat mengembangkan sastra lewat kritik terhadap karya, jadi mahasiswa sastra punya tanggungjawab intelektual-sastra. nah, tinggal bagaimana para pembelajar sastra itu menemukan cara-ucap mereka untuk menjawab tanggungjawab intelektual-sastra itu. kalau mau contoh, mas F. Jati Adi Nugroho, sasIng `02, web-developer situs ini, telah menemukan cara-ucapnya.
semangat Denty!!!
salam,
Ginting
Bagiku, ada yang lebih mudah untuk mengatasi kebingungan dalam dirimu itu. Bagaimana kalau kau tanyakan lagi pada dirimu kembali mengapa beberapa waktu yang lalu kamu masuk jurusan sastra? Cukup yakinkah dirimu atas tujuan dan alasan mu beberapa waktu yang lalu? Tanyakan juga pada orang itu, mengapa tidak boleh teralu sastra? apakah karena banyak anggapan orang kalau sastrawan tidak bisa hidup dengan banyak uang? kalau memang itu jawabannya, berarti orang itu salah besar.
bagiku pribadi sastrawan tidak hanya menulis karya seperti puisi, drama dan prosa, namun segala bentuk teks dan hal yang melibatkan bahasa adalah sastra. contohnya adalah web ini. bagiku web ini adalah bentuk karya sastra modern karena melibatkan bahasa dan teks.
semua realita di dunia adalah sastra karena kita tidak bisa lepas dari bahasa dan teks, semua itu tergantung seberapa jauh kamu mau melihatnya
yang ditawarkan Sastra ya seperti yang tertulis di iklannya Sadhar, menjadi penerjemah, menjadi humas, menjadi interpreter, menjadi pekerja di departemen luar negri.
yang ditawarkan Sastra ya seperti apa yang kamu inginkan. apa yang kamu inginkan ada di sastra...hahahahaha...
salam,
amarah durga
wah, kawan-kawan terimkasaih atas komentarnya. Aku cuma lagi dugp dugp dugp duer saja. Hehhe.. Alasanku masuk sastra krn aku suka baca novel. Hihhiiii.. Jadi aku milih bidang yang aku suka. Sebelum di sastra, aku tertarik sekali dgn jurnalistik. Suatu ketika nanti, aku harus memilih mana yg lebih fokus, sastranya atau jurnalistiknya. Aku juga nervous.. Aku tidak pintar, untk menguasai satu bidang saja sulit, apa lagi keduanya. Mungkin lingkunganku merasa: Apa sastra bisa menjawab berbagai persoalan berbangsa dn bernegara, maksudnya yo opo iso idup dr sastra nd opo yo iso sastra menyelesaikan mslh hidup yg realistis ini. Hhe he.. gituh kali ya, bingung.
Salam..
mungkin kmu blm knl aku, tp pernah liat..halah...
mmm...alasan yg menarik kmu milih kul d FS, S.ing lagi...kebanyakan sii alasannya krn bhs ing-nya...klo alasan itu dosen pun menjawab "silakan kursus aja, nak".
Kmu bisa berkaca pada teman2 yg sudah lbh dahulu kul atau pun yg dah lulus. Menurutku belajar sastra, bukan "nyastra" loh, erat kaitannya dengan dunia jurnalistik. Apa lagi sekarang yg namanya "Jurnalisme Sastra" mulai naik daun. Coba aj kmu baca di harian nasional macam Kompas yg kata rekan2 reporter Kompas sendiri kependekan dari "Komplotan Pastor"..hahaha..hanya becanda loh..Gaya penulisan jurnalistik spt itu pun dipakai hampir di semua media cetak, bahkan ke majalah otomotif spt Topgear (favoritku). Silahkan tanya Teguh soal Jurnalisme Sastra.
Balik soal tmn angkatan yg lbh dulu, paling tidak kamu bisa berkaca pada mereka. Kalau kamu ingin jadi jurnalis, well, teman2 kita ad yg jd wartawan Kompas, Antara. Malah Mas Dalang Potehi ini berhasil menjadi editor di Majalah T3. Selamat, Bes..eh Dalang. Bukan lantas figur mereka jadi masa depan kmu, tapi paling tidak kamu bisa pelajari bahwa tidak perlu sebingung itu deh...hehehe
Kalau kamu menyukai bidang jurnalistik, cobalah pelajari sedini mungkin. Dunia Jurnalisme dan Sastra sangat erat kaitannya khan. Coba minta pendapat temen2 yg berkecimpung di jurnalistik. Kalau kesulitan, yah web ini lah salah satu sarana yang bisa membantu.
jadi pernah berhenti belajar, karena belajar tidak hanya di dalam kelas saja.
aku tahu kebingungan para lulusan sastra dengan profesi apa yang bisa dicapainya setelah lulus nanti. Namun, saya memang berencana untuk membuktikan bahwa dari menulis pun kita bisa hidup, tanya saja Muji, saya pernah katakan hal ini pada waktu ETT Mediasastra di Kalinegoro. dan entah beruntung, takdir ataupun, kehendak alam, aku pun mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keinginanku. tentu saja hal2 tadi tidak akan pernah berhasil atau manjur kalau kamu juga tidak pernah mau bekerja keras mengejarnya.
jangan takut dengan istilah 'melacur' karena kalau kamu tidak 'melacur' kamu menyuruh orang tua mu yng melakukannya.
baca catatan harianku jika mau tau pengalamanku ketika hari-hari pertama aku mulai bekerja.