Sewktu yang telah berlalu

dalangpotehi's picture
Oleh kawan dalangpotehi, Kamis 04-12-08 14:13

Akhirnya, hari ini pun datang. Hari yang diakhiri dengan malam pertamaku di Jakarta. Terbesit sekian keraguan untuk berjalan pada keputusan ini, meski sejumlah keyakinan juga mengiringku. Biarlah kucoba menghitung lagi apa saja keraguanku dan keyakinanku, meski aku tahu aku tak mungkin mundur dari keputusanku.

Keraguanku dan ketakutanku paling besar adalah aku harus meninggalkan anak dan istriku di Jogja. Aku mungkin cukup mandiri namun tak dapat kupungkiri jauh dari istriku merupakan salah satu hal terbesar yang kutakutkan. Aku telah hidup dengannya selama bertahun-tahun dan aku sangat menikmati kasih sayang dan perhatiannya. Tak ada wanita lain yang sanggup melakukan apa yang bisa dilakukan istriku dengan baik, setidaknya sampai hari ini. Wanita lain, ya, hal itu juga yang kutakutkan ketika harus berjauhan dengan istriku. Aku tahu diriku cukup lemah untuk tidak tergoda dengan wanita di sekitarku, setidaknya tergoda untuk meniduri mereka. Meskipun begitu, aku tahu apa yang bisa menjagaku, yaitu anakku. Satu hal yang aku tahu, rasa sayangku pada anakku lebih besar dari rasa sayangku pada nafsu birahiku sendiri.

Satu hal lagi yang membuatku ragu adalah kota ini. Jakarta, yang ada dalam pikiranku adalah kasar, tidak bersahabat, dan sangat luas. Cukup membingungkan berada di kota, yang bagiku, sangat jauh berbeda dengan Jogja, kota yang paling ramah yang pernah kutinggali. Belum lagi dengan jalan-jalan yang jauh lebih rumit daripada Jogja, membuatku terasing dengan kota ini. Sebenarnya keraguan dan ketakutanku tentang kota ini mungkin hanya pada awalnya saja, cuma harus beradaptasi saja. Ada hal lain yang lebih menakutkan. Aku takut kalau nanti aku beradaptasi dengan kota ini, cara berpikirku pun berubah. Aku lebih suka dengan cara berpikir orang desa, yang suka bersahabat tanpa mencari keuntungan materi, yang tidak hanya berpikir praktis saja, yang menaruh pandangan positif pada orang-orang yang ditemui.

Jadi sebenarnya kesulitanku di Jakarta hanyalah masalah membiasakan diri dan adaptasi dengan sekitarku. Hanya saja, aku harus beradaptasi dengan banyak hal. Aku harus beradaptasi dengan pekerjaanku sebagai editor yang kukira cukup menantang, dengan lingkungan baruku, dengan lokasi-lokasi dan orang-orangnya, dan dengan diriku sendiri yang jauh dari orang-orang yang kusayang.

Mungkin akan cukup berat pada awalnya, namun untunglah aku punya sekian keyakinan untuk menjagaku bertahan disini. Mimpi, cita-cita dan ambisiku yang harus kukejar untukku, anakku, dan istriku.

Hal pertama yang membuatku ingin bertahan di Jakarta adalah mimpiku yang cukup tinggi bagi keluargaku. Aku ingin memberikan pilihan yang cukup banyak bagi anakku kelak. Saat ini yang mungkin bisa kuberikan hanyalah pilihan tentang konsep, pertimbangan, ataupun filosofi. Ada hal lain yang belum bisa kuberikan pilihan pada anakku yaitu materi. Aku bukan menjadi materialistis namun aku tahu tanpa materi anakku tidak akan memiliki banyak pilihan. Aku ingin memberikan pilihan makanan apa saja yang bisa dia nikmati, aku lebih senang jika anakku makan tempe karena seleranya sama seperti ibunya yang juga suka tempe, bukan karena hanya tempe yang bisa aku berikan bagi anakku. Aku ingin mempunyai pilihan yang beragam saat dia sakit, aku lebih senang jika dia sakit, dia tidak mau minum obat hanya karena dia meniru bapaknya yang juga tidak suka obat, bukan karena kita tidak bisa membelikannya obat atau membawanya ke dokter. Demikian juga dengan sekolahnya, aku ingin memberikan dia pilihan untuk bersekolah atau kuliah mulai dari fakultas dan jurusan apapun yang ingin dia ambil sampai mungkin gelar Doktor di luar negeri jika dia mau.

Pilihan-pilihan itulah yang membuatku yakin kalau aku harus bekerja di Jakarta. Aku telah menghitungnya dengan standar gaji pada umumnya, jika aku bekerja di Jogja, 10 tahun bekerja pun belum tentu aku bisa memberinya satu dari sekian pilihan tadi. Saat ini memang aku mengejar materi karena aku tahu jika berbicara mengenai modal pemikiran, moral ataupun motivasi diri, aku telah mempunyai cukup bekal untuk kubagikan pada anakku, setidaknya aku tidak mulai dari nol. Namun jika berbicara mengenai modal materi, aku masih nol bahkan bisa dibilang minus.

Satu hal lagi yang membuatku yakin dengan keberadaanku di Jakarta adalah profesiku. Bagiku bekerja bukan hanya mencari uang atau materi tadi, namun juga mencari banyak hal, yakni pengetahuan yang lebih rumit dari yang kudapat waktu kuliah dan teman atau rekan baru yang lebih beraneka ragam. Profesiku saat ini adalah seorang editor, aku rasa pekerjaan ini lebih menantang daripada sekedar guru SD ataupun sales MLM. Aku yakin dengan pekerjaan ini, banyak pengetahuan baru yang bisa aku dapatkan. Bagiku, pekerjaanku saat ini adalah investasi waktu yang cukup menguntungkan. Berbicara mengenai investasi waktu, yang kumaksud adalah selama aku bekerja beberapa tahun, siapa sajakah orang-orang yang bisa kukenal lewat pekerjaan ini, pengetahuan baru apakah yang bisa kudapat dengan profesi ini, materi-materi apakah yang bisa kudapatkan dengan gaji dari pekerjaan ini. Bagiku setiap proses yang kujalani adalah investasi, meskipun kadang hasil investasi itu tidak selalu dapat diukur dengan uang ataupun barang. Teman atau rekan baru, seringkali hal ini lebih berharga dari ilmu pengetahuan ataupun uang dan barang. Aku percaya, orang-orang di sekitar kita menentukan apa yang dapat kita pelajari atau miliki, termasuk pengetahuan dan materi.

Satu lagi yang membuatku yakin dengan pilihanku sekarang adalah aku memang bercita-cita untuk mencari uang dengan menulis. Aku ingin buktikan pada banyak orang-orang yang mengatakan bahwa lulusan jurusan sastra susah cari kerja dari profesi yang berkaitan dengan sastra dan kalaupun ada pasti uangnya akan pas-pasan. Aku ingin buktikan bahwa menulis pun bisa mendatangkan keuntungan materi yang lebih dari cukup. Pada awalnya aku sempat berpikir untuk melepas keinginan pribadiku ini, karena kebutuhan keluargaku yang mendesak. Namun mungkin Tuhan, Alam, Takdir, ataupun keberuntungan, memberiku pekerjaan ini karena aku telah meyakinkan Nya kalau aku pantas dengan pekerjaan ini. Maka dari itu, aku takkan melepaskan kesempatan yang bagiku sangat berharga ini.

Mungkin ada beberapa orang yang tidak akan mengambil pekerjaanku dengan pengorbanan yang sama denganku, atau dengan tujuan yang sama denganku, tapi biarlah. Aku tahu apa keputusanku dan aku takkan menyesalinya. Aku tahu butuh banyak pengorbanan dan kerja keras untuk bisa berhasil di Jakarta, meski sebenarnya kedua hal tersebut dibutuhkan di mana saja. Yang aku pegang satu hal, yakni aku tidak akan salah menginvestasikan waktuku di sini jika aku mau bekerja keras. Aku yakin mungkin mimpi sedikit muluk-muluk tapi aku tahu aku bisa. Dulu, aku pernah bermimpi untuk hidup sederhana, jika hari ini impianku masih sama, bagiku, itu sama saja membuktikan bahwa aku tidak mengalami kemajuan, tidak ada capaian kongkrit yang kuraih setelah kuhabiskan waktu, uang, tenaga dan pikiran selama aku berproses dalam kurun waktu itu.

Jakarta, 27 November 2008
Dalang Potehi

ginting's picture
maju terus, bung!
Komentar dari kawan ginting, Jumat 05-12-08 14:27

salut aku sama pengakuan dalang potehi. aku kira ini terjadi pada banyak sekali orang: impian yang ingin dikejar dengan jalan yang tidak bercabang-cabang. banyak sekali orang yang mempunyai impian, yang dikiranya dapat langsung mereka rengkuh lewat jalur-bebas-hambatan. tapi, pada nyatanya, kerap orang harus memilih jalur yang "memutar", yang berimbas pada jarak, perjuangan, dan konsumsi waktu yang lebih banyak.

apa yang didapatkan dalangpotehi adalah apa yang secara pribadi juga sangat aku inginkan, aku citacitakan. hidup dengan menulis. ini sukar sekali untuk dilakukan dari tahap bawahtanah. sering berbenturan dengan kenyataan bahwa perut harus lebih dulu diisi. apalagi, bagi dalangpotehi sendiri, yang sudah memiliki anak-istri, tentu saja kebutuhannya menjadi lebih mendesak daripada saya yang masih melajang, tanpa tanggungan harus membantu orangtua pula.

Jakarta, dengan segala pencitraan yang lekat padanya, tetap saja menjadi sawah-ladang banyak manusia. adaptasi adalah kuncinya. namun, bukan dalam artian harus "melacur"kan mental agar dapat bertahan hidup. adaptasi di sini berarti kemampuan membaca tindak-tanduk, tabiat, alur, dan konsep sosial yang bermain di tataran lingkungan.

kalau mengenai birahi, wah, aku nggak ikut-ikutan deh, dalang. hehehe...

lanjutkan perjuanganmu, kawan. salutku ada buatmu!

salam,
ginting