Bekerja, ya bekerja ,meski baru 3 hari aku bekerja, setidaknya aku menemukan beberapa hal-hal yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan. Aku hanya mencoba memberikan sebuah pertimbangan yang mungkin bisa dipakai oleh para pembaca untuk dijadikan motivasi untuk bekerja ataupun tidak bekerja. Mungkin lebih baik kumulai saja dengan hal-hal yang tidak menyenangkan terlebih dahulu.
Hal pertama yang tidak menyenangkan adalah kehilangan banyak waktu untuk bersenang-senang. Mungkin ada yang pernah mengalami bekerja dalam sebuah organisasi atau lembaga di kampus ataupun sekolah, tapi bekerja profesional jauh lebih tidak menyenangkan daripada kegiatan-kegiatan tadi. Alasanku adalah, yang pertama, bekerja dalam satu organisasi mungkin memang harus juga memikul sebuah tanggung jawab atas tugas-tugas yang ada, namun satu hal, tanggung jawab itu kita yang memintanya. Contohnya saja aku ketika kuliah dulu sempat membantu, bahkan tidak dengan iming-iming jabatan kepanitiaan, beberapa kegiatan. Lelah memang, tapi lebih banyak hal menyenangkan daripada beban yang harus ditanggung. Aku senang karena ada banyak teman dekatku yang juga berada di sana, aku sudah terbiasa dengan orang-orang kuajak bekerja sama. Seperti yang kukatakan diatas, beban yang harus dipikul tidak pernah seberat kerja profesional. Jika kita bekerja dalam organisasi secara sukarela, beban kita mungkin hanya rasa tidak nyaman pada diri kita ataupun teman-teman kita ketika kerajaan kita tidak beres. Dan hasil yang kita dapatkan pun selalu pasti, saya cukup yakin, para teman-teman yang bekerja sukarela itu motivasinya adalah menambah keakraban, pengetahuan, ataupun, uang saku ala kadarnya. Tentu saja tujuan diatas otomatis tercapai, namun ketika kita bekerja, mungkin memang ada yang tidak menaruhnya sebagai prioritas utama, namun saya percaya orang yang bekerja profesional berharap akan keuntungan materi dari situ, setidaknya cukup untuk kebutuhan makan. Hal inilah yang, menurutku, menjadikan beban itu lebih berat. Jika bekerja sukarela, tujuan kita, seperti yang sudah saya utarakan diatas (keakraban, pengetahuan, atau uang saku seadanya) pasti tercapai, namun jika bekerja profesional, ada satu hal yang mungkin tidak bisa tercapai yaitu keuntungan materi, kita bisa dipecat atau potong gaji. Dan karena hal itu pula, teman-teman yang kita temui dalam satu kegiatan sukarela dan profesional pun akan berbeda, dan bagi saya itu juga berpengaruh pada kenyamanan kita bersama mereka.
Hal kedua yang tidak menyenangkan adalah terjebak pada rutinitas. Saya memang belum merasa bosan karena terjebak dengan rutinitas, tapi saya membayangkan jika saya sudah bekerja selama satu tahun, mungkin akan jauh lebih terasa kebosanan itu. Bayangkan saja jika kita masih kuliah, minimal kalaupun kita tidak mau bergaul, kita pasti melihat wajah baru setiap tahunnya dan dari banyak wajah baru itu, setidaknya kita mendapatkan satu kawan baru. Namun bekerja kemungkinannya lebih kecil, tergantung dari pekerjaannya juga. Bagiku kawan baru turut menciptakan suasana baru yang bisa menghibur kita dari rutinitas kita. Selain soal kawan baru, tugas kita sebagai mahasiswa dan pekerja itu jauh berbeda. Mungkin memang jika kita kuliah, kita akan berkutat dengan satu disiplin ilmu saja namun minimal kita mendapatkan tugas yang berbeda setiap harinya, karena mata kuliah kita setiap hari kemungkinan besar berbeda. Atau kalau kita jadi pengangguran, itu lebih menyenangkan lagi, kita bisa menentukan kegiatan apa saja atau teman baru siapa saja yang kita mau tanpa jadwal dan paksaan sama sekali. Namun jika kita bekerja, kita akan berkutat dengan beberapa tugas yang sama setiap harinya sampai mungkin kita naik jabatan atau dipecat.
Sampai hari ini, yang kurasakan ketidaknyamanan bekerja adalah 2 hal diatas. Namun meski aku menemukan hal-hal yang tidak menyenangkan, aku menemukan hal-hal yang jauh lebih menyenangkan.
Yang pertama adalah kita tetap mendapatkan hal-hal non materi dari bekerja, seperti pengetahuan dan teman baru, meski pilihan kita atas pengetahuan dan teman yang bisa kita dapatkan jauh lebih sedikit. Namun meski pilihan itu lebih sedikit, kalau kita mau belajar, ilmu yang bisa kita dapatkan bisa jauh lebih bermanfaat. Sebenarnya yang membuat kita mendapatkan ilmu yang lebih bermanfaat karena beban yang lebih berat seperti yang saya utarakan diatas, tergantung dari kita nya memaknai beban itu.
Hal kedua adalah keuntungan materi yang bisa kita dapatkan dari bekerja benar-benar hasil keringat kita sendiri. Entah, mungkin ada beberapa orang yang tidak setuju dengan ini. Mungkin ada sebagian orang yang lebih nyaman untuk menggantungkan hidupnya pada orang tuanya, tapi aku lebih suka menikmati uang hasil keringatku sendiri. Ya mungkin ada orang yang berkata dengan kita bekerja kita menjadi mata duitan, materialistis, ataupun budak kapitalis, mungkin mereka benar. Tapi tak bisa disangkal, kita masih hidup di dunia yang telah carut marut yang membutuhkan uang untuk bertahan hidup, entah uang itu kita dapatkan dari pemberian ataupun pekerjaan kita, bagaimanapun juga kita butuh uang. Karena itulah, satu hal yang aku percaya, pilihan kita cuma dua: kita yang menjadi budak kapitalis, mata duitan dan materialistis atau kita memaksa orang yang mencukupi kebutuhan hidup kita selama ini tetap menjadi budak kapitalis, mata duitan dan materialistis. Misalnya saja, saya hidup dengan uang hasil pekerjaan saya sekarang, setidaknya sekarang saya mampu untuk tidak bergantung pada orang lain, tapi mungkin beberapa tahun lagi, saya bisa menghidupi seluruh keluarga saya. Tapi jika saya tidak bekerja, saya tetap butuh uang, tentu kita masih butuh 3 kebutuhan materiil yang pokok, papan, sandang, pangan, darimana saya dapat uang itu? Mungkin dari orang tua atau saudara saya yang cukup kaya sehingga bisa terus menopang kebutuhan ekonomi saya, tapi bukankah orang tua dan saudara kita itu memberi kita uang atas pengorbanannya menjadi budak kapitalis, mata duitan dan materialistis? Ya sekali lagi mungkin akan ada perbedaan pendapat dengan saya, tapi saya lebih suka mengorbankan diri saya demi keluarga saya daripada mengorbankan keluarga saya demi kesenangan pribadi saya.
Setidaknya 2 hal inilah yang saya temukan sampai hari ini saya bekerja. Sekali lagi, saya tidak bermaksud menganjurkan apapun, pilihan tetap ada di para pembaca. Tugas saya hanyalah memberikan pertimbangan...
Jakarta, 3 November 2008
DALANG POTEHI

