sebagaimana demikian

matahari mungkin lebih suka bersembunyi
di balik awan
dan cinta akan bersembunyi
di balik senyumku
sebagaimana awan menjadi hujan
demikianlah senyumku menjadi tangis
sebagaimana hujan menyuburkan tanah
setiap tetes air mata adalah pengorbanan bagimu
dan bila dedaunan tumbuh dari suburnya tanah
demikian cintaku tumbuh menyejukan duniamu..

sedia payung
keluar rumah di saat ini
jangan lupa engkau membawa payung, sayang...
hujan sebentar lagi akan turun
dari kedua bola mata sendu itu.
salam,
amarah durga
should?
jika payung tidak mampulagi melindungiku
apa yang harus aku lakukan
ketika mata itu tak sadar
untuk siapa lagi semua air mata yang telah terhambur..
catangel who always happy
"standing in Love"
Ah, bagaimanapun juga, ternyata,isi dari respon dan komentar atas hadirnya sebuah wacana, "terlebih puisi", sangat dipengaruhi oleh keadaan psikis dan wacana lain yang sedang "ngendon" di otak orang yang mengkonsumsinya.
Begitu jugalah saat aku melihat puisi Catangel ini.
aku sedang tergugah dengan beberapa kalimat yang mengacu pada "penderitaan." Tuan Lurrie dalam Aib(Disgrace)nya Coetzee mengatakan bahwa, "penderitaan yang tak membunuhku akan menguatkanku." Ah, masih cukup jauh, ya? Afrika soalnya. hehe...
Nah, ada istilah jawa yang cukup menarik juga berbicara tentang penderitaan yang mampu menjadikan orang sebagai bangsawan batin; neng neraka katut, neng suarga ora nunut. kata-kata ini aku ambil dari sesirih kapur yang ditulis untuk Kuantar ke Gerbang-nya K.H. Ramadhan.
Meski mungkin loncat,saat membaca karya Catangel "Sebagaimana Demikian", aku jadi berpikir tentang baris yang diungkapkan Montaiqne; Chaque homme porte la forme enti e're de l'humaine condition (Setiap Manusia membawa bentuk lengkap dari kondisi kemanusiaan).
"Sebagaimana Demikian", sederhananya saja, ketulusan membawa manusia mengungkap perannya dalam dunia sosial. pengorbanan yang sangat sering berkonotasi positif dalam dunia perjuangan apapun, juga terlihat dalam puisi ini. Ah, sial! Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana-nya Sapardi Djoko Damono tiba-tiba terbayang. Mungkin karena beberapa citra yang digunakan sama: awan, hujan, dan cinta. Mungkin puisi itu lahir duluan.
Loncat ke Fromm, "Orang cenderung berpikir bagaimana untuk dicintai, bukan mencintai" (The Art of Loving). Puisi ini menggambarkan sebaliknya, yaitu kesadaran bahwa "seni dari cinta" adalah mencintai. Mencintai dilakukan dengan kesadaran. jadi, lanjut Fromm, seharusnya bukan "Falling in Love" tetapi "Standing in Love." Kesadaran ini tumbuh, kadang dalam nestapa, dalam "airmata" yang "adalah pengorbanan bagimu" dan "dan bila dedaunan tumbuh dari suburnya tanah/demikian cintaku tumbuh menyejukan duniamu.."
SalamStandingInLove,
Wahmuji
Post new comment